Sejarah

Sejarah tidak ditulis oleh pena milik Tuhan. Tidak pula dilukis bergurat-gurat lewat kuas Sang Maha Kuasa. Sejarah berdetak dalam nadi manusia, dipanggul berat pundak kita.

                            

Buku dan Ingatan

Siang tadi main ke kosan mimit. Dia sedang membuat tulisan tentang ingatan rupanya. Dibacakannya lima puluh hal yang kait-mengait di pikirannya. Mulai dari ayah, impian, hingga kawan-kawannya.

Terbetik pula keinginan untuk menulis seperti yang dilakukan mimit. Buat saya tiap buku, mengutip Putut EA, adalah perjumpaan. Dan perjumpaan memiliki kisahnya masing-masing. Dipilihlah beberapa buah buku paling berkesan beserta cerita yang menyertainya.

1.    Mahatma Gandhi-nya Stanley Wolfpert mengingatkan rambut gondrong yang tumbuh semasa SMA. Setelah bersabar menunggunya panjang selama berbulan-bulan, rambut itu harus jadi korban perjanjian dengan ayah saya. Beliau selalu punya cara untuk menyingkirkan rambut panjang tak terurus yang tumbuh di kepala saya dari pandangannya. Ketika itu buku Gandhi jadi senjatanya. Tak apalah, saya anggap itu pertukaran yang seimbang.

2.  Adalah sebuah keberuntungan lokasi SMA saya berdekatan dengan sebuah toko buku yang cukup besar. Toko buku tersebut memiliki cerita tersendiri buat saya. Jajaran rak filsafat, politik, dan biografi ibarat pemakaman tempat bosan bersemayam dengan tenang.

Bertrand Russel seperti menyampaikan pidato pemakaman singkat. Menceritakan bagian-bagian buku yang ditulisnya, Sejarah Filsafat Barat. Tentang Socrates, lalu Plato, dilanjut Marx dan Nietzche. Khusyuk saya mendengarkan, sebelum teguran penjaga toko merebutnya. Rupanya kebiasaan saya membaca sambil berjongkok dianggapnya menganggu kenyamanan pengunjung lainnya. 

Tebal buku yang lebih dari seribu halaman tak pernah selesai dibaca hingga saya lulus SMA. Setelah jadi buku impian selama tiga tahun, akhirnya hasrat memiliki tercapai juga. Uang lebaran yang memungkinkannya.

3.  Dulu saya pernah menyamakan tindakan saya dengan laku Chairil Anwar. Niat mencuri Sabda Zarathustra berakhir gagal. Yang diambilnya ternyata Sebuah Injil. Saya tak mencuri, hanya mengurangi jumlah uang yang harus dibayarkan. Itupun berjalan mulus. Aksi kami ternyata berbeda.

Seperti kata Bang Napi, “kejahatan bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga ada kesempatan”. Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam karya Muhammad Iqbal adalah target operasi. Gunung Agung Kwitang jadi lokasinya. Kesalahan petugas toko menempel label jadi penyebabnya. Harga tertera Rp 15.000,- seharusnya ditempel di buku Sayap-sayap Patah-nya Gibran. Kebetulan pula mesin pembaca biner Gunung Agung Kwitang sedang rusak. Jadilah kasir tak begitu curiga dengan harga yang terlalu murah jika dibandingkan ketebalan buku. Selamat.

Impas buat saya. Setelah tindakan tersebut saya dan seorang teman mencari makan di daerah pasar Senen. Rasa bersalah coba ditutupi dengan mentraktir semangkuk bakso dan segelas teh manis. Rasa bakso yang buruk dan porsi sedikit ibarat azab. Dongkol dan terus memaki mulut ini sepanjang perjalanan pulang ke Bogor.

4.    Aku Ingin Jadi Peluru-nya Wiji Thukul, kisah hidup Budiman Sudjatmiko dalam Menolak Tunduk, dan kumpulan puisi Sapardi dalam Pacar Kecilku mengingatkan sesosok teman wanita yang saya kagumi. Semua buku didapat di Jogja. Saya berikan ketiganya sebagai bentuk terima kasih atas pemberian syal wool ungu-hitam yang konon dirajut dengan tangannya sendiri.

Sempat saya tanyakan buku mana yang dia sukai? ternyata Pacar Kecilku. Sementara itu buku Menolak Tunduk hanya dilihat bagian depan dimana foto Budiman terpampang. Ganteng, itu alasan yang diberikan.

5.  Buku-buku Tan Malaka mengingatkan saya pada Samsir, si Petani Tua dari Lereng Burangrang. Sampai sekarang saya masih curiga beliau adalah pengikut Tan Malaka. Petani Tua kerap mengeritik Tan Malaka, namun kedekatan dia dengan orang-orang seperti Chairul Saleh, Wikana dan semacamnya memerkuat dugaan saya.

6.    Kono yang pertama mengenalkan saya dengan Pramoedya dan Ahmat Tohari. Anak Semua Bangsa, karya Pram yang pertama saya baca, dipinjam dari beliau. Begitupun trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari. Membaca Masterpice Tohari tersebut berasa mengecap Anggur Merah: halus, manis meski kadang menyentak, dan membius. Rasa yang didapat juga ketika membaca tulisan-tulisan Kono.

7.  Kumpulan surat kabar Star Weekly tahun 1948 ditukar dengan sebuah MP4 dan uang sejumlah lima puluh ribu rupiah. Tak pernah saya lupakan malam ketika teman saya, si Yahudi karang penjual buku langka dengan mahir meyakinkan saya untuk menjalankan pertukaran itu.

8.  Kumpulan esei Romo Mangun dalam Pasca-Indonesia Pasca-Einstein kerap membuat hati merindukan liburan keluarga. Buku yang termasuk salah koleksi awal tersebut dibeli dalam satu kesempatan liburan keluarga di Kwitang, Jakarta. Toko atau pasar buku adalah tempat favorit keluarga saya untuk menghabiskan waktu liburan bersama-sama, entah itu di Jakarta ataupun Jogja.

9.  Edisi Negeri Militer jurnal Wacana jadi momok. Otak mengingat pengalaman buruk mengobrol dengan George Junus Aditjondro. “Kamu masih hijau,” komentarnya pada saya. George merupakan salah satu kontributor yang menyumbang beberapa tulisan untuk jurnal tersebut. Terakhir kali diajak seorang teman bertemu George di Jogja, saya menolaknya. “Masih menderita sindrom,” bela saya.

Namun, saya selalu menikmati penampilannya di Televisi. Begitupun dengan tulisan-tulisannya. Fisiknya seperti Marx, gendut dan berjangut. George juga menulis seperti Marx dengan menyajikan kelengkapan data, ketajaman analisis, dan keberanian luar biasa.

Jatinangor, 17 Juli 2007

Sore pukul empat