Kematian

Pagi ini langit menyenandungkan sendu kembali. Awan gelap bertumpuk-tumpuk bikin udara pagi yang biasanya hangat tidak terasa. Berat kaki, tapi saya melangkah juga.

Kata orang yang ahli baca cuaca, langit semakin sulit diawasi. Musim berganti tanpa turut aturan yang dulu-dulu. Manusia salah besar ternyata. Dulu berpikir bisa kuasai alam, tapi sekarang justru kita dikuasai alam.

Sejak revolusi industri, cerobong-cerobong pabrik menusuk langit; dam raksasa dibangun menghambat laju air; tanah-tanah diliciki benih-benih penelitian. Percepatan katanya. Hai manusia lihat mesin kami, beton kami, pestisida kami, bisa bikin kita hidup berlimpah. Selamat jalan kelangkaan, selamat tinggal kekurangan.

Tapi, alam punya logika sendiri. Logika yang dianaktirikan manusia. Asap pabrik merenggut ketebalan atmosfir selembar demi selembar, hasilnya pemanasan global; air yang dihambat bikin laut kekurangan pasokan garam dan jadilah daratan semakin terkikis; bibit rekayasa membunuh kesuburan tanah pelan-pelan. Haus laba bikin efisiensi jadi anak kesayangan yang diturut segala maunya. Peduli setan manusia lain jadi korbannya.

Pagi ini hati berbisik gelisah lagi. Di bawah langit mendung saya mulai hari. Niatnya mau melangkah tiga kilometer jauhnya menuju tempat kursus. Sejak punya rutinitas baru ini, hidup saya menggelegak lagi. Pertanyaan ke pertanyaan berembus lagi.

Peralihan bukan hal yang menyenangkan. Dia selalu datang membawa segepok masalah sembari menyeringaikan bibir. Seperti pergantian musim yang selalu bawa penyakit pancaroba. Tak tahu peralihan ini mau bawa saya kemana.

Sekarang cuma tahu kalau konflik selalu berakhir dengan konsensus, dipaksakan atau tidak. Tapi, tak mau memercepat hidup kalau harus korbankan kehidupan. Tak mau berucap “selamat jalan pertanyaan, selamat tinggal kehidupan”.

Jogja 6 Agustus 08

                            

Mak Tini

...Disini tak ada nasib. Tak ada nasib yang mirip putaran roda. Orang bekerja cuma buat hidup. Tanpa harapan. Mereka cuma menunggu jenazahnya dibawa pulang ke kampung halaman...

Kemarin-kemarin Mak Tini sering mengeluh lapar. Bukan mengeluh sebetulnya, tapi cuma menjawab. Kalau pagi dia suka tanya "mau makan pake apa, mas," saya balik tanya "wis mangan, mak? (sudah makan,mak?)". Mak Tini jawab apa adanya.

Tak ingat sejak kapan dia mulai kerja pada Nenek. Dulu sekali, ketika saya masih bocah, dia datang dari sebuah desa miskin di pojokan Jogja. Beberapa bulan bekerja, Mak Tini bawa dua anak kembarnya turut serta Andi dan Endi. Sembari sekolah mereka kerja juga buat nenek saya.

Andi sudah punya satu anak sekolah TK. Dia nyupir dan Siti istrinya memasak. Mereka ketemu dan jatuh cinta waktu sama-sama kerja buat nenek. Mertuanya Andi kerja juga buat nenek, jadilah satu keluarga besar dipersatukan di dapur yang temboknya kehitaman karena asap.

Asap yang sama buat Mak Tini kena katarak. Beberapa bulan lalu dia naik meja operasi. Biayanya berhutang sama nenek dan bantuan teman-teman sependeritaan. Di bulan yang sama tangan saya patah. Kami suka bertelepon saling bertanya kabar dan memberi semangat.

Mak Tini jadi pendiam. Juni sampai Agustus pesanan Catering menumpuk. Bukan tak ingin ngobrol sama saya, tapi takut kena dampat majikan yang tak lain-tak bukan adalah Bulik saya. Tembok-tembok dapur dipasang tulisan "Sedikit Bicara Banyak Bekerja".

Beberapa hari lalu dia simpankan udang goreng buat saya. Kami bicara sambil makan.

Kalau pesanan sedang banyak upahnya sampai 200 ribu seminggu. Kalau sepi turun hingga seperempatnya. 50 ribu buat hidup seminggu?? Tidak, kurang dari 50 ribu malahan. Gajinya dipotong utang sebelum diberikan.

"Mas jangan cerita sama bulik lho, nanti saya dimarahi," saya cuma tersenyum dengar kalimat Mak Tini sambil ingat muka sangar bulik saya.

Jogja, 28 Juli 2008

Waktu Hujan Sore-sore

yang datang tak perlu disoraki

yang pergi usah ditangisi

mari saling melambai, di pelabuhan

langit selalu biru, sore ini, dan dulu --

waktu kita bertemu

(Jogja, 21 Juli 2008)

Satu atap kita waktu hujan turun sore-sore. Kamu buat teh dan saya secangkir kopi. "Hujan adalah persetubuhan langit dan bumi," saya berujar kamu mendengar. Mungkin bosan, tapi kamu masih disitu. Mendengar ceracau saya yang bersaing dengan detak hujan menghujam tanah.

Satu langkah kita waktu matahari jadi raja-diraja di puncak langit. Saya menepi, lalu rebah di dipan pendek kosanmu. Kamu menyingkir sebab tahu badan ringkih saya suka merajuk. Ah, nona selalu ingat itu.

Dinding yang sama halangi angin malam menusuk kulit. Kita berdebat hebat tentang dialektika cinta. Sampai fajar. Lalu kamu kasih selimut saat saya pamit tidur. Rasanya mirip seperti ketika kamu datang bawa jamu penghilang batuk, kamu tahu saya benci obat kimia; serupa seperti tanganmu yang mengulurkan jus buah dalam botol saat saya terserang gejala typhus.

Buat kamu yang tak pernah lelah ajari saya hidup; yang tak lelah berjalan bersama si keras kepala; yang ingatkan besok Sahala kuliah pagi; yang suka meledek mesra kalau saya jatuh cinta

Sudah senja, banyak yang pergi. Kalau sempat bertemu saya angkat gelas buat kamu, buatkan racikan kesukaanmu. Nanti kita menyanyi lagi buat persahabatan, kenangan, hidup, dan buat mimpi-mimpi kita

Terima kasih, Nona Taman Feurbach...Sudah jadi sahabat, kakak, dan ibu kedua buat saya...

Perkabungan

Di sebuah pertigaan saya menghentikan langkah, sadar kehilangan arah. ’Ikutin aja taburan bunganya,’ pakde tahu saya kebingungan, berujar sambil melirik ke arah bawah. Kami berbelok ke kanan. Di kejauhan rombongan pengantar jenazah berjalan cepat. Meninggalkan kepulan asap menyan dengan bau yang khas. Kemenyan memang punya semerbak yang bisa tercium dari jarak cukup jauh.

Saya tak mencoba memercepat langkah. Jalanan berpasir, kanan-kirinya kebun salak membentang. Daerah ini, Kecamatan Pules, memang terkenal sebagai penghasil salak pondoh. Di pasar harganya lebih mahal disbanding salak jenis lain. Rasanya manis dan tidak meninggalkan ampas di bijinya jika digigit.

Pohon bambu dan kelapa yang menjulang berbaris di sisi-sisi kebun. Matahari tertutup dedaunan yang berdesakan. Got kecil di sisi kanan. Bukan, bukan got. Kata itu ingatkan saya pada aliran pembuangan yang keruh sampah. Air disini jernihnya melebihi aliran PDAM untuk mandi di rumah.

Gemericik aliran air menerjang kerikil. Gemerisik daun beradu diterpa angin. Ah, harmoni yang lama betul tak saya temukan. Ingin menepi barang sebentar. Menutup mata. Jenak menyumbu sekitaran. Tidak, tidak saat ini. Rombongan makin jauh di depan sana. Saya bakal tertinggal perkabungan.

Kuburan di Jogja punya tempat dan bentuk berbeda dengan di Bogor. Di Jogja kuburan selalu punya gerbang, betapapun sederhananya. Sekeliling dibangun pagar pembatas. Di Bogor kerap kali kuburan diselipi jalan umum di tengahnya, kematian cuma sampiran dari keseharian.

Seperti masuk masjid, alas kaki harus dilepas di gerbang kuburan. Sepertinya kematian dan kehidupan sama sucinya buat penduduk sini. Ow, tidak. Beberapa pelayat berpakaian necis pakai alas kaki juga. Mereka tak tahu adat sekitar.

Seperti biasa pemakaman diakhiri dengan nisan yang menancap. Sebiji kelapa ditaruh di atas makam, menandakan kalau makam ini masih baru. Satu-satu pelayat pergi meninggalkan sanak famili almarhum yang masih berjongkok masyuk mengelilingi kuburan. Ada yang berdoa dan menabur bunga.

Berjejer pelayat di sisi got kecil depan kuburan. Bergantian membasuh kaki yang dilekati pasir dan tanah. Saya turut, menggulung celana panjang hingga dengkul lalu turun ke sungai. Segar aliran air jernih menerpa kaki. Melepas butiran pasir. Di belakang pelayat lain menunggu. Saya harus lekas meski masih betah.

Nah, akan menepi kau sebentar

Di luar ada karnaval knalpot dan raung jam yang selalu meminta,

Ada perkabungan yang cepat ditinggalkan

Ada yang gemetar di bawah permukaan,

Gagal kau berikan nama

(Anonim, Puisi di tembok salah satu gang Ps. Beringharjo, Jogja)

Seloroh obrolan memenuhi isi mobil. Delapan orang tinggalkan perkabungan di desa, kembali ke kota menjajaki hidup. Air Conditioner bikin panas udara Jogja tidak berasa. Saya duduk di kursi paling belakang, pojok sebelah. Memandang suasana di luar jendela. Ada gedung-gedung mewah berdiri; motor dan mobil berseliweran dikejar waktu, terhenti oleh lampu merah di sebuah perempatan besar yang ramai spanduk dan iklan ukuran raksasa.

Mobil begerak lagi selepas lampu berganti hijau. Kendaraan tarik gas penuh. Sore menjelang, pekerjaan masih menumpuk. Nanti malam kalian masih punya janji. Ah,kematian memang membebaskan manusia dari penjara kehidupan. Wahai perkabungan kau menyenangkan sukacita kau menyedihkan...

Jogjakarta, 21 Juni 2008

Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan

Sendal pijat dari kayu dengan tonjolan-tonjolan seperti barisan kapsul sebesar ibu jari, melayang. Berhenti dan jatuh di lantai setelah beradu dengan tembok kamar. Sedetik lalu melayang persis di samping kaki saya yang reflek melompat. Putaran tangannya, tangan ibu saya, masih hebat seperti ketika menyabet berbagai piala kejuaraan badminton, tenis meja, dan voli saat perayaan HUT RI beberapa tahun lalu. Ketepatannya belum berkurang, karena dia masih senang berlatih. Hanya saja, siang itu, saya bukan lawan yang ingin dikalahkannya dengan smash-smash tajam. Saya hanya anak nakal yang membuat kesal hati ibunya. Tubuh kecil saya bergetar setelah bunyi dakk akibat benturan sendal dengan tembok, ibu melengang pergi ke luar kamar. Meninggalkan sendal yang luput.

Lemparan itu menghilang ketika saya beranjak besar. Mengakrabi dunia coba-coba anak SMP. Bolos, merokok, alkohol Ibu tak pernah tahu kecuali hal yang pertama. “Aal, biar papa yang ngurus, mama udah nggak sanggup lagi,” intonasinya sama seperti tahun-tahun yang lalu. Kelopak mata saya basah, sesal tertunda menitik, air mata yang tak pernah ke luar saat lemparan barang luput atau tamparan keras memerahkan pipi saya. Malam itu saya memilih dilempar atau ditampar saja, jangan keluar kalimat itu dari mulutmu, ibu.

Dua puluh satu tahun lalu. Seorang perempuan dengan janin berusia sembilan bulan, jatuh dari becak. Kepalanya membentur bemper belakang truk. Beberapa jam kemudian sejarah tercatat: dari empat kali kelahiran, kali ini yang paling lama dan menyulitkan.

Tak pernah terpikir di otaknya, betapa sulit melahirakan dan membesarkan anak. Sepertinya lebih sulit dari tahun-tahun perjuangan beliau saat ditinggal ibu yang meninggal dan bapak yang dibui akibat tragedi politik paling kejam di Indonesia. Dia hidup bersama ibu tiri. Sampai dua puluh tahun kemudian bapaknya dibebaskan dengan tanda ET di Kartu Tanda Penduduk.

Pagi sebelum berangkat sekolah, nasi harus sudah masak. Sebuah sepeda tua dikayuh, menyusuri jalanan Jogja menuju sekolah tanpa sepeserpun uang saku. Kadang roda berhenti di sebuah kuburan Cina. Perempuan itu tertidur setelah sehari kemarin pekerjaan begitu berat. Mengaduk puluhan loyang kue, mencuci baju sendiri, membeli baju lalu menjualnya lagi.

Ya, sejak lama ibu berjualan pakaian. Karir yang sudah dirintisnya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Umur dua belas, Surabaya dia datangi bersama adik lelaki yang umurnya masih enam tahun dan sekarung pakaian dari Ps. Beringharjo. Tak ada alamat lengkap, hanya petunjuk lisan menempel di ingatan. Modal yang kemudian digunakannya saat jadi kurir ke Jakarta.

Orang-orang Ps. Beringharjo, seperti juga pedagang Mester dan Tanah Abang, sudah pada tahu. Perempuan itu masih jualan baju sampai sekarang, untuk biaya sekolah empat anaknya.

Jadi penjaga karcis PJKA pernah juga dia jalani. Tak bisa dia jadi pegawai kantoran, cuma tamat SMA dengan angka merah berjejer di ijazah dan rapor. Ya, dia senang tidur di kuburan cina saat jam pelajaran.

Kesehatannya jauh menurun, dibandingkan ketika muda dulu. Ibu masih keras kepala jika diminta jangan bekerja terlalu berat. Semangatnya tak pernah mengkerut meski uban satu-satu memenuhi rambut. Dan kerut di wajahnya semakin nampak, aah saya ingat janji membelikannya Oil of Ulan jika dapat gaji pertama. Kerut-kerut yang nampak indah jika semua anaknya berkumpul saat liburan.

Dia tak pernah melempar sendal pada adik saya. Sesekali saja saya lihat air mata menitik membasahi pipi dan mukenanya di dua pertiga malam. Kepalanya menyandar di tembok, suara lirih, dan terbata. Di doa ibu kudengar ada namaku disebut.

Bogor, 21 Desember 2007

Cintaku, Cinta Konser

Jakarta memang neraka, saya benar-benar merasakannya kali ini. Hari itu, minggu, lazimnya orang-orang ibukota pelesir ke Puncak Bogor atau Bandung sana, dan saya yang besar di Bogor lalu kuliah di Bandung bisa melengang mulus di jalanan Jakarta tanpa terganggu oleh kemacetan yang sudah rutin disini ketika hari kerja. Kenyataannya tidak begitu.


Mobil meninggalkan daerah Pancoran menyusuri jalan tidak seberapa lebar, menuju ke daerah mana saya lupa. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul tiga dan matahari masih galak seperti jam 12 tidak pernah beranjak sedetikpun. Saya membuka kaus tipis yang apek karena dicumbui keringat.


Bertelanjang dada saya mengiringi Candil bersenandung, “kapan ku punya pacar, kapan ku punya pacar,” dan drakk. Benjolan aspal membuat bergetar pemutar compact disc Pioneer abu-abu 12 cd yang dipasang di bawah laci mobil sebelah kiri. Lagu berhenti diganti nada timur tengah mengalun tanda pesan singkat masuk ke Siemens saya.


Haduh knp dbliiin?yawda nanti gw gantiin ya say..jgn marah ya say.”


gw g btuh uang lu. Jrang2 gw maen k Jkt,qta kan udh lma g ktemu.Tpi,klw mang g bsa g ush gnti duitny,gw g smiskin itu,non..hehe” tombol send ditekan.


Faktanya, saya belum punya tiket. Taktik saja, supaya teman saya itu mau menemani saya nonton acara musik Jazz yang rutin diselenggarakan setahun sekali oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya penggila reggae dan tak begitu menikmati Jazz. Tapi, saya penikmat musik,\ apapun genrenya. Di Indonesia pagelaran Jazz yang tiketnya dihargai puluhan ribu cuma ada sekali setahun, Jazz Goes to Campus. Itu yang membuat saya mau jauh-jauh ke Jakarta cuma untuk nonton sebuah konser musik.


Langit sudah ramah. Tidak panas tidak pula hujan. Mobil bergerak lagi, tanpa nyala air conditioner kali ini, karena jarum penanda bensin sudah sampai di titik E. Empty.


Pokoknya ente harus lakuin itu. Ini kesempatan jarang. Ke Bogor pun ane anter. Kalau ente sampai ga lakuin, ganti nih duit bensin,” gurau teman saya mengancam sehabis mengeluarkan dua lembar ratus ribuan di sebuah pom bensin yang letaknya dekat dengan bilangan Ps. Minggu. Ya, saya ke Jakarta menumpang. Betul-betul baik kawan saya itu. Sudah ditumpangi, mau mengantar ke Bogor pula.


Al, gw udh di jln nech. Janji yah gw plgin jgn mlm2.awas loh..


nyawa gw taruhannya,” balas saya


Ba’da Maghrib. Untuk menemukan tempat parkir teman teman saya sampai harus memutar mobil tiga kali, sekali keluar UI lalu masuk lagi. Bahu jalan sudah penuh dan kami menemukan sebuah tempat lowong di boulevard, empat ratus meter dari gerbang, sekitar satu kilometer dari Fakultas Ekonomi.


Al beli ponstan”, “Al beli aqua jg.cptn udah skt gi9i bech...oia permen jg soalnya gw takut minum obat sndrian.he2 maap ia kebnykn ia he2


Saya masuk ke alfamart, beli sebungkus Djarum Super, sebotol aqua, dan sebotol nuGrentea. “Ada ponstan, mbak?” saya harap-harap cemas. Nihil. Lucu juga ada alfamart di dalam kampus, di Unpad ini tidak (mungkin juga belum) terjadi. Komersialisasi Kampus belum separah Jakarta dimana setiap hal diukur dengan lembar-lembar uang. Bagus, berarti pedagang-pedagang kecil itu masih bisa tetap hidup.


Seorang wanita dengan kaus oblong dan celana jeans berdiri di atas meja yang terletak di tengah-tengah area ticket box. “Tiket sold out,” ulangnya beberapa kali. Gimana ya, kacau ini, ketahuan sudah bohong saya. Tidak ada tiket dan ponstan, saya harus ngomong apa nanti.


Sekitar sejam menunggu sambil duduk-duduk dan foto-foto, akhirnya kesepakatan dicapai. Tiket Cuma ada satu. Teman lelaki saya menggunakan tiket bekas, saya pakai tiket asli, dan teman saya yang perempuan sudah punya cap di lengannya hasil dari menempelkan cap yang masih basah dari adik kelasnya. Strategi berhasil.


Kami bertiga berpisah di dalam. Teman lelaki saya langsung menuju main stage bersama dua orang lainnya, sementara saya dan teman perempuan saya berdua saja. Jitu.


JGTC dua tahun lalu tidak seramai kali ini. Sebuah neon box besar bertuliskan Three Decades of Jazz Goes to Campus; Celebration of Inspiration terpampang di dekat bunderan FE yang ramai oleh pengunjung yang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah bunderan, lampu kelap-kelip diuntai seperti membuat rangka payung, mengelilingi sebuah tiang tempat lampu warna-warni berbentuk huruf J-G-T-C dipasang vertikal. Pawang hujan tampaknya sukses karena hujan tak menambah semarak acara hingga penampil terakhir menyelesaikan lagunya di pangung.


Laper ni, cari makan dulu ya,” perut teman saya merajuk rupanya. Sepuluh meter dari bunderan, stand makanan berjejer. “Jangan pancake, nggak kenyang. Gw laper banget nih,” silahkan saja nona, malam ini semua mau Anda saya turuti.


Gw gak makan, kopi aja,” ujar saya sambil memesan segelas nesface panas yang dijual di sebelah stand tempat teman saya memesan. “Gua mau milo kaleng,” pinta teman saya sambil memesan makanan di stand samping. Saya keluarkan selembar dua puluh ribuan dari saku kanan dan membayarnya. Lima puluh ribuan terakhir saya ditepisnya, dia yang membayar untuk dua porsi makanan yang terlalu mahal dihargai Rp.26 ribu.


Umur berapa lu mau nikah?” teman saya membuka pembicaraan sambil menyuap sendok kesekian melewati bibir merah jambunya. Saya keget namun mencoba tersenyum. Seperti berkah yang datangnya terlalu cepat, berkah yang jadi bencana.


Hmmm, nggak tau. Gw gak suka menargetkan hidup. Selama gw senang hari ini, hari besok gak dipikirin. Cukup. Gw lebih senang begini, hidup bebas dari target,” sebisa mungkin saya cari kalimat yang pas sambil pikiran saya menerka apa yang ada di balik pertanyaan tersebut. Suara penampil dari main stage terdengar, “lagu berikutnya tentang seorang pria yang setia dengan janjinya”.


Aduh, dia tanya soal hubungan. Tanya saya sejarah pers Indonesia, kita bisa semalaman membicarakannya, tapi jangan soal hubungan karena saya belum punya jawabannya. Saya tak berminat membahasnya denganmu, nona. Dan kamu, pasti tak berminat membahas beberapa kesalahan Pramoedya mengurai sejarah Tirto Adhisoerjo dalam tetraloginya. Yah, kita memang berbeda. Kupikir, aku yang selalu mencoba menyesuaikan diri denganmu meski ketakutan itu terus menetak. Kenapa kau gerus keindahan malam ini dengan pertanyaan macam itu.


Sudahlah, bung, jangan dibiarkan terus gelisah itu berkecamuk, nikmati saja malam ini. Huff, untungnya dia tak tahu probbing dan tak memberondong saya dengan dengan pertanyaan lanjutan.


Setengah sebelas malam, mobil menyusuri aspal basah tol Jagorawi yang terus didera hujan. Setengah jam berikutnya mobil menyusuri jalan-jalan kecil di sebuah kompleks perumahan elite Bogor. Saya masih hapal jalan tikus disini meski sudah setahun lebih tak melewatinya.


Kompleks elite nih. Orang-orang kaya Bogor tinggal disini. Cuma ada tiga kompleks perumahan elit di tengah kota Bogor: ini, daerah Dadali, sama Taman Kencana. Ki Gendeng Pamungkas tinggal di daerah sini,” tukas saya pada teman lelaki yang sedang memegang kemudi.


Apaan sih lu. Biasa aja kali, lu selalu gitu,al. Pehitungan sama gw,” teman perempuan saya yang duduk di jok belakang langsung emosi dibilang tinggal di kompleks perumahan elite. Dia memukul-mukul tubuh dan kepala saya yang duduk persis di depannya.


Buat nelpon Dewi bisa, ko gw nggak? Sakit hati gw,” saya tak bisa melihat ekspresinya ketika bicara seperti itu. Saya tak tahu teman perempuan saya itu serius atau tidak.


Saya ingin mejawabnya ketika kita berpisah di pagar rumahmu, tapi tak tahu harus dengan kalimat seperti apa. Pun bapak-bapak itu, yang nongkrong-nongkrong di depan pagar rumahmu, kehadirannya betul-betul menganggu saya.


“Gimana nyong?” teman lelaki saya rupanya sudah tak sabar mendengar kalimat yang saya katakan waktu mengantar teman perempuan saya masuk ke rumah.


“Dia nanya gw balik ke Bogor ngak Minggu depan, pengen ngajak jalan lagi. Gw bilang ‘iya’. Ketemu lagi minggu depan. Masih memesona dia,” jawab saya seadanya.


U make a dark nite so wonderful, thx..hehe. Jgn mrah yak, tdi gw boong udh pnya tiket spaya lu mw dtg,” saya kirim pesan singkat sebagai tanda terima kasih kepada perempuan itu.


Saya khusyuk di depan komputer. Main Football Manager 2008 sambil mendengarkan mp3 dari Winamp. Cinta Sudah Lewat-nya Kahitna dapat bagian bersenandung beberapa saat setelah Kencan Pertama dan Jikalau-nya Naif. Dia dan janji itu masih membayang meski pertemuan itu sudah lewat seminggu. Saya tak menepati janji yang diucap seminggu lalu.


Berikan aku senyuman satu malam saja, jangan kau tawarkan sebuah hubungan, nona,” saya ingin jujur padanya. Kalimat itu ingin saya bisikkan ke telinganya yang berpahat giwang bundar biru muda malam itu. Andai, andai saja malam itu kau mencecar terus, kukeluarkan kalimat pamungkas itu.


Jatinangor, 4 Desember 2007

Perjalanan: Sebuah Pengakuan

Zaman bertukar musim berganti, manusia pun berubah. Betul memang, tak ada yang hadir tanpa penyebab. “Ting” seperti sulap itu omong kosong saja.

Masa lalu saya terselip dalam lembaran-lembaran binder tua. Catatan ini, secara lengkap ataupun secuil saja, baru dua orang yang dipersilahkan membacanya, Nona Feurbach dan si Pengeluh. Nona Feurbach mendorong saya untuk mempublikasikannya. “Usaha untuk menghargai proses dan dialektika,” begitu ujarnya. Tapi  tetap saja tak ditulis ulang semuanya. Alasannya, antara malas dan malu.

Sedikit catatan dari masa lalu. Pengharapan dan pertanyaan tentang masa depan.

?????

I.       Masa SMA

Hidup saat ini menjadi hanya seperti sampah. Terlalu banyak kesenjangan, diskriminasi, penindasan, dan kecurangan berkedok malaikat. Dunia menjadi terlalu sempit untuk perubahan. Tak ada kesempatan, yang ada cuma uang dan kekuasaan. Orang-orang kaya terlalu sombong untuk mau berbagi.

Terlalu lama dan mustahil untuk kaum tertindas menunggu campur tangan negara. Politik hanyalah politik. Hanya politik dengan omong kosong di dalamnya yang benar-benar menjadi sebuah politik. Dalam siding-sidang negara hanya ada BULLSHIT!!!! Taka ada jalan untuk rakyat kecil selain bergerak sendiri, do it yourself. Bangkit dan bersatu demi masa depan yang lebih baik

Bogor

, 9 Desember 2003

22.03

sedih juga lihat berita Alm. Ersa Siregar. Orang yang punya idealisme dan dedikasi tinggi buat pekerjaannya. Salut buat beliau. Dia bekerja tak hanya dalam lingkup Jurnalistik, tapi juga respek sama penderitaan di daerah konflik. Bisa ngak gw kaya beliau? Gw rasa anak-anaknya bakalan bangga punya ayah sehebat dia yang peduli banget sama anak-anaknya, sampai sampai nyempetin diri nelpon buat nanya SPMB (walau dari daerah konflik, lagi ditahan GAM). Buat gw hal-hal seperti itu punya influence besar, karena gw juga pengen jadi wartawan.

Yang jelas, gak peduli nanti jadi apa, yang gw harus ambil sisi positif beliau: dedikasi tanpa kenal rasa takut. Terakhir gw Cuma bisa berdoa mudah-mudahan Allah menempatkan Alm Ersa Siregar dalam golongan orang-orang yang Ia cintai…amin

Malem Rebo, 30 Des 2003

9.24 Waktu kamar

Hari dengan kemunduran semangat! Hidup semakin berat dan mulai tumbuh rasa frustasi. Banyak perjuangan yang berakhir sia-sia. Hasil yang gw terima sering jauh dari harapan. Mimpi terbentur kenyataan. Buat bangkit boleh dibilang susah karena cuma secuil semangat yang tersisa dalam dada!!

Lelah rasanya ngejalanin hidup yag monoton. Gw butuh perubahan; gw butuh menikmati hidup gw sendiri; gw bosen jadi beban orang lain. Tekanan-tekanan harus bisa gw jadiin semangat

GET UP STAND UP, STAND UP FOR YOUR LIFE

Senin,150304

20.10

Ga ada hal yang cukup penting dan ngeganggu, ordinary day. Hal-hal mulai bersahabat. Mungkin karena depresi mulai berkurang. Semangat baru tumbuh seiring usaha buat keluar dari keadaan yang ngak bersahabat.

Hari ini gw selesai baca buku Kromo Kiwo, Mereka yang Tak Pernah Menyerah, yang gw beli kemaren. Hal-hal yang bisa gw tangkep:

  1. ….
  2. isinya keren karena ceritanya tentang eks-Tapol dan seputar basis PKI di Yogya.
  3. pledoi orang-orang yang pernah jadi korban politik Orde Baru
  4. … (bagian ini agak berbau SARA, jadi tidak dicantumkan…hehe)
  5. ngajarin bahwa ada resiko yang harus kita tanggung terhadap jalan dan pilihan hidup yang kita ambil.

Tapi satu yang masih jadi pertanyaan mendasar, walau gw udah baca beberapa buku pro-kontra PKI: “sebenernya PKI itu bersalah atau tidak (mungkin yang saya maksud waktu itu dalam konteks G30S).

Bisingnya hidup coba kurenungi dalam hening. Menyedihkannya diriku coba kutulis dalam kata yang jauh dari dusta. Hanya lembaran-lembaran yang mungkin 10 tahun lagi aku lupakan yang tahu jelas diriku saat ini. Allah tahu aku coba berubah, Allah pun tahu diriku lebih dari diriku sendiri. Kuharap besok lembar-lembar ini masih bisa jadi koreksi bagi diriku; bercerita tentang sukses, bukan lagi kegalauan. Kuharap esok tangan ini bisa menghasilkan hal-hal yang berguna. Amin.

Rabu, 170304

21.26-21.59

II. Legegnya (Sombong) Mahasiswa Semester Awal

Aku temukan bahwa aku menunggu untuk disingkap. Untuk ditelanjangi oleh waktu segala kebohonganku. Untuk diotopsi kepalsuan yang merasuk sampai ke tulang-tulangku…

Aku temukan bahwa aku terasing. Keterasingan yang membuatku berdiri di atas pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang eksistensiku. Keterasingan yang menghadirkan pertanyaan akan masa datang di depan wajahku. Secuil pun aku belum bisa bayangkan seperti apa…

19 ke depan tentunya akan berbeda. Aku harap aku lebih siap ditelanjangi. Lebih bisa menghargai keterpisahan melalui sebuah penyatuan. Lebih mampu menjawab 19 lain yang berdiri di depan wajahku…

Aku kini 19 langkah mendekati penyatuan…mudah-mudahan.

Ps: semakin hari aku semakin tak menemukan makna esensial Hari Ulang Tahun. Buatku ini hanyalah satu keanehan masyarakat…

14 Juli 2005

perihal sesat atau bukan, menyesatkan atau tidak, saya artikan itu sebagai kuasa kita untuk menulis sejarah…ada hal yang kadangkala perlu kita lebihkan, kurangkan, manipulasi, semuanya demi kenyamanan, kelangsungan hidup kita. Walaupun Tuhan memanifestasikan dirinya dalam ruh, jiwa, atau lembaran-lembaran suci, selalu ada usaha untuk memertanyakannya. Tapi, apakah suatu sistem kepercayaan (Agama misalnya) begitu berpengaruh terhadap hubungan manusia dengan Tuhan? Apa jiwa, ruh, rasio begitu liar dan tak terarah dan membutuhkan suatu pagar agar ia tetap berada dalam tempat yang semestinya…

Bogor

, 19 Juli 2005

Dinihari

Ada

seorang kawan yang mengirim pesan singkat ke HP saya. Isinya secara garis besar adalah bahwa sosialisme bukan sebuah mimpi. Ia juga menulis bukan tak banyak orang miskin, dan sosialisme bukan tidak ada arti…

Saya kembali bertanya tentang sosialisme. Ketakpercayaan terhadap bentuk ideologi apapun saat ini, membuat saya ingin menyumpahi bentuk apapun ideologi. Bukankah ideologi hanyalah class-idea dari ruling class? Toh selalu muncul sempalan-sempalan yang mewarnai sejarah ideologi – bukti bahwa ideologi cuma berhala yang disembah dan bukan hal yang absolut. Bukankah kekuatan ideologi terletak pada struktur, bukan kemasukakalannya. Itu adalah bukti bahwa ideologi menyuntik kesadaran kita untuk ikut dalam struktur dan meminggirkan keunikan kita demi kepentingan ‘bersama’ atau kepentingan ruling-class yang termaktub dalam ideologi

Ya, mungkin ini karena kurang wawasanku dibanding temanku tadi…

010805,

Bogor

,

…Mungkin saja ketakutan, kecemasan, lahir dari ketidapasrahan saya pada tindakan. Belum sempurnya kesadaran pada tahap religius seperti yang dipahami Kierkegaard.

Atau mungkin saya terlalu egois. Mencampakkan pilihan-pilihan yang diberikan hidup. Dan karena saya tervonis bebas, saya lebih memilih untuk tenggelam dalam masalah ini. Saya tenggelam dan berlarut-larut…

25 Agustus 05

Waktu Zuhur Jatinangor

…benar bila kita berjalan dengan kaki, bukan otak. Tapi perasaan kadang membuat kita ingin meminggirkan logika sejenak. Mengikuti kemana kaki ingin melangkah, tanpa ingin tahu tujuannya.

Jatinangor,

9 September 2005

Menjelang Ashar

?????

Nah, saya temukan juga secarik kertas yang agak kusut, mungkin karena terlipat-lipat. Isinya puisi, sungguh surealis!

Sunset 25 Januari

Laut menunggu ombak bergulir

berderu gaungnya dalam hatiku

berseru, aku malu

hanya bisa diam, lagi

ombak kini tinggi menggapai menguasai diriku

habis aku lebur, hilang

kini kamu dan dirimu menutup dibalik awan

aku pergi dan kau disitu tersenyum, aku tahu

seperti senja, hanya menanti

dan diam, lagi

Yogyakarta

, 25 Januari 2005

Halangi sunset yang kunanti

Pie to dab?! (bagaimana sih kamu?!—terj)

Ditulis ulang

27 September 2007

Tentang (About, Not Against) Ibu

Waktu kunjungan sudah berakhir dua jam lalu. Lorong Rumah Sakit sepi. Tas berisi satu stel pakaian ditambah sebuah sajadah yang dilipat mengganjal leher saya. Tubuh rebah di atas sebuah kursi panjang berwarna coklat-hijau. Suara lirih merebut perhatian yang tadinya saya curahkan untuk membaca.

Suara tersebut berasal dari kamar sebelah. Tirai hijau menutupi pandangan saya ke sumber suara. Memejamkan mata, mencoba memperkuat pendengaran saya. Lantunan indah Mazmur, salah satu bagian dari Injil, mengalun. Saya ingat beberapa potongan favorit saya. Lirih namun pasti. Dari mulut seorang ibu Sabda paling nikmat untuk didengar. Setidaknya saya pernah merasakan itu.

Beberapa kali saya dirawat di Rumah Sakit. Hanya sekali saja ibu tak duduk dengan sabar mendampingi di samping ranjang tempat saya terbujur lemah—ketika itu ibu sedang berada di luar kota. Seringnya beliau memijit dan mengusap kaki atau tangan. Lebih sering lagi membaca Quran untuk menenangkan hatinya dan saya. “Istighfar, al,” kalimat tersebut berulang masuk ke telinga.

Pernah suatu kali saya mendapat kecelakaan. Tak parah karena tak sampai dirawat. Masih dalam keadaan sadar melihat langsung tindakan dokter menjahit luka sobek mengangga di beberapa bagian tubuh. Begitupun ketika selesai, masih sanggup berjalan tegap. Ibu baru datang beberapa menit kemudian. Berjalan agak limbung menghampiri saya. Tubuh masih kuat menahan sakit, namun hati segera luluh oleh dekapan dan tetes air yang membasahi tertahan di lipatan kelopak mata ibu. “Mama hampir jatuh dengar kamu kecelakaan,” bisiknya lirih sambil terus mendekap saya.

Ketika pulang ke rumah ibulah yang paling mengerti saya. Kehabisan rokok, dia belikan; makanan favorit dia buatkan—beliau jarang lupa memasakkan udang goreng tepung ketika saya berada di rumah; kopi, dia siapkan segera ketika saya mengabari akan pulang. Tetap saja dia menasihati, “kurangi rokok dan kopimu.” Saya tak menganggapnya gangguan, toh dia tak pernah lupa membelikan rokok dan kopi. Nasihat adalah bukti kasihnya. Sekedar catatan, ibu saya juga penikmat kopi dan rokok dengan merek yang sama seperti saya.

Saya anak kurang berbakti. Ketika itu, sabtu malam, telepon saya terima di kosan. Suara ibu terdengar kecewa karena saya tak pulang. Besok ada pengajian untuk mendoakan keberangkatannya ke Tanah Suci Mekkah. Gusar hati mendengarnya, saya mengecewakan ibu.

Banyak rasanya perlakuan kurang menyenangkan saya terima. Tapi, tak baik kalau ditulis. Hanya menghabiskan waktu dan membuat penyesalan saja. Saya yang salah maka ibu berlaku seperti itu. Kekecewaannya pada anak lelaki tertua dalam keluarga terus coba dia singkirkan. Sepenggal kalimat keluar dari mulutnya sore itu, setulus Mazmur, “tempat mengadu terbaik bukan pada teman, tapi orangtua. Mereka selalu ingin yang terbaik buat anaknya, maka tak mungkin menjerumuskan kamu.”

Ahh, aku lebih menyukai tidur di rumah. Disini, di kosan, tak ada pagi dimana kau masuk ke kamarku dan memeriksa kantong depan tas, mencari sebatang rokok. Tak ada kau yang membangunkan aku dan bertanya, “al, mana rokok? mama bagi sebatang”.

Jatinangor, 01 Februari 2007

Libur Kecil Kaum Kusam

Semakin sulit sekarang menemukan ruang publik untuk berlibur. Taman-taman indah dengan air mancur di tengahnya Cuma bisa dipandang dari balik pagar besi, tidak untuk dimasuki. Wisata mata.

Di Bandung masih ada beberapa taman rindang yang bebas akses. Taman Lansia atau taman dekat Jonas misalnya. Kita bisa menikmati tumpukan sampah sambil menggelar tikar dan membuka rantang makanan, lalu menikmatinya bersama kawan atau keluarga. Gratis tanpa tiket masuk.

Kalau berkunjung ke Yogya, sempatkan menikmati malam Anda di trotoar depan benteng Vrederburg atau Istana Presiden. Gratis juga. Keramahan akan menyapa. Ramai pengamen dan pedagang sore mengaso sehabis kerja. Ngobrol dengan mereka, saya pastikan Anda akan tahu bagaimana cara hidup di jalanan. Ini kegiatan favorit saya.

Kalau lapar dan ingin merokok ada angkringan dan pedagang asongan berjejer. Biarkan hidung Anda menghirup aroma alkohol yang keluar dari mulut jembel-jembel. Kalau beruntung kita bisa menikmati tontonan gratis. Para pemabuk sedang berkelahi dengan kayu atau sabuk pinggang. Sirene lalu berdengung, polisi menghentikan perkelahian.

Lampu taman padam pukul satu. Keramaian segera menyusut berganti manusia yang tidur di penjuru-penjuru taman, beralaskan kardus berselimut spanduk hasil maling. Habis waktu kita, mari langkahkan kaki pulang ke rumah.

Jangan takut liburan belum usai. Masih ada agenda terakhir. Menonton acara televisi akhir pekan. Ada liputan jalan-jalan dari Bali, Lombok, Sumatra, dan berbagai penjuru Indonesia. Kadang dari luar negeri pula. Lapar? Santai saja sebentar lagi acara kuliner. Menunya beragam dari makanan tradisional sampai a la bule. Tak perlu susah mulut anda mencicip asam-manis coto makasar atau spagheti. Tutup saja mata Anda lalu dengarkan pendapat pembawa acara. Mak nyusss….

Jatinangor, 25 Agustus 2007

Amor Fati, Malam Hamil Tua

Asbak sudah penuh terisi. Malam hamil tua. Nanti suara sang muadzin menyambut surya yang menggeliat keluar dari kegelapan rahim. Saya diam, lalu mengetik. Diam lagi. Membaca, mengetik, dan kembali diam. Selalu seperti itu, malam ke malam. Hanya malam yang sanggup.

Empat lebih lima belas. Persalinan segera dimulai. Malam kehabisan daya dan saya tak ingin melihat kelahiran hari dengan mata yang masih nyalang. Selimut ditarik. Selamat tinggal malam. Kutinggalkan kau dengan kepala tertunduk. Mata menutup.

Bukankah kelahiran itu menyakitkan? Butuh tenaga dan keberanian untuk menerima sesuatu yang baru, begitu?

Malam, jangan kau tebus pagi dengan nyawamu. Tak sanggup kau penuhi pintaku? Biarlah sekedar mata diselimuti gelapmu saja, dalam tidur pulas.

Dan matahari merangkak lamat. Mengambil nyawa embun tetes demi tetes. Pagi bersabda, “cintailah keutuhan, nasibmu. Jadilah penuh dengan berdamai dengan nasib. Lampaui siang-malam, gelap-terang, keruh-bening, sulit-senang, hitam-putih. Buka lebar-lebar tangamu menyambut pagi yang baru. Jangan kau larut dalam malam, usah pula tinggalkan dia”.

21 Agutus 2007

Nona, Masihkah Tak Ingin Menikah??

Bukan Assalamualaikum atau selamat sore, namun “aku jatuh cinta dengan Multatuli”. Teriakan Nona Taman Feurbach menggiring burung-burung keheningan yang sedang bercicit merdu pergi seketika. Saya terpukau kaget.

Ada

apa gerangan?

“Ternyata ada itu cinta seperti dalam bayanganku, dalam tuturan Multatuli,” jelasnya. “Seperti jalinan antara Jenny dan Marx,” tegasnya. Langsung saja nona berceloteh ria seperti biasa.

Mundur ke masa lalu.

“Aku mungkin tak akan menikah,” kalimat itu keluar dari mulut yang mulai menghitam akibat kebiasaan merokok. Dia mencoba menggurat nasib, menghapus ketidakpastian hari depan dengan sebuah ramalan. Sekali dua kali saya anggap angin lalu saja. Dihapusnya keraguan saya dengan terus mengulang kalimat itu tiap kami mengobrol. Dia serius.

Nona ini menganggap sulit sekali menemukan pasangan yang klop. Bukan secara fisik melainkan secara pemikiran. Masa lalunya dengan beberapa pria memberi segudang pengalaman untuk meneguhkan pendapat tersebut. “Aku mungkin tak akan menikah”.

Sampailah pada suatu perjumpaan. Dengan buku Multatuli dan kolom tanya-jawab asuhan Leila CH Budiman rupanya memberi suar cerah.

“Kadar pemahaman Agama yang setingkat diantara dua pasangan menentukan kelanjutan hubungan. Perbedaan Agama bukan masalah lagi,” kutip nona. Saya manggut-manggut entah setuju atau sekedar refleks.

“Nona, masihkah teguh tak ingin menikah?”.

Mari saya putarkan sebuah lagu sebagai persembahan. “Kenapa bercinta jika kesudahannya pasrah. Karena bila dilamun indahnya tak terkata,” nah itu dia Too Phat dan Siti Nurhaliza berkisah.

Bersiaplah. Negasi sejengkal di atas ubun-ubun. Tadinya saya kira tekad nona sudah pasti, ternyata meluruh juga di udara. All that is solid melts into the air, masih ingat dialektika cinta-menyinta kita malam itu?

16 Agustus 2007

setelah kepulangan Nona dari

Taman

Feurbach

Hanya Orang Gila Tak Ingin Kaya

Kau tak ingin kaya? Darimana asal pikiran sinting macam itu. Baiklah, teman saya seorang psikiater handal, mungkin beliau bisa membantumu. Ahh, maaf  kalau terlalu kasar. Tapi saya kira semacam gangguan jiwa sangat mungkin menimpamu. Psikiater itu pasti bisa menamai penyakit ini.

Ada

baiknya buku-buku sejarah itu kausingkirkan. Mereka membawamu pada romantisme. Keindahan komunalisme cuma ada dalam temuan ilmu sosial. Individualisme itu tiang yang sekarang menancap kukuh ke jantung keseharian. Kau lihat cakrawala zaman kita dibentuk gurat-gurat persaingan. Oww, aku tahu pasti ini semacam kepengecutan. Kau takut kekalahanlah yang menutup lembar perjuanganmu, begitu bukan? Pasti, pasti itu!

Aduh, maaf sekali lagi. Kelabu gusar begitu ganas menyelubungi, makanya bicaraku jadi pekat begini. Aku tak bisa lagi melihat dirimu secara jelas. Jangan pula kau balas nasihatku ini dengan raut sedih macam begitu. Mataku tak sanggup menatap kekalahan yang begitu besar. Muram durja itu milik filsuf miskin yang tak punya apa-apa selain kegalauan. Hal yang bahkan tak mengusir lapar walau sedetik saja.

Keinginanmu tulus dari dalam hati, aku tahu itu. Kelak kau tahu ketulusan tak memberimu sekeping uangpun. Sekarang cuma segelintir orang gila saja yang masih memilikinya, dua puluh tahun lagi kata ‘tulus’ pasti terhapus dari kamus bahasa.

Lihatlah, di jalan besar

sana

karnaval knalpot begitu bingar, muntahan asap jadi latarnya. Di sisi mereka, tepat di atas trotoar, berjalan manusia-manusia lain menghirup cuma-cuma gas karbon monoksida. Jantung mereka dirusak oleh orang lain! Itulah takdir zaman kita. Kemiskinan dan kelemahan sepaket dengan ketidakmujuran dan penghisapan. Kau mau diperlakukan seperti itu?

Lihatlah, tetanggamu itu, si Tuan Besar, mobilnya berjejer indah di garasi. Naik haji sudah berkali-kali, macam pergi ke Dufan saja. Tiap lebaran jembel-jembel berbaris di depan pagar rumah, saling sikut malah, menunggu lembaran sepuluh ribuan dibagikan. Cuma recehan uang segitu buat dia. Menabung pahala untuk akhirat. Dihargai orang sekitarnya, tak berani kepala ditegakkan jika berpapasan.

Tanahnya di desa puluhan hektar. Beli murah dari petani ketika ekonomi jatuh lalu bangun pabrik tekstil. Petani desa tak punya lahan. Sekarang anak pemudanya jadi buruh tanpa perlu pindah ke

kota

. Kalau upah kurang tinggal minta pinjaman berbunga ke bank Tuan Besar. Kau harus begitu jika ingin sukses, tajam sorot mata kalau lihat peluang.

? ? ? ? ?

Siang itu gelisah datang. Tanpa ampun meghujamkan lusinan pertanyaan. Gontai dibuatnya. Hei, aku ingat kau, yang membalas ajakan kakak sepupumu ikut MLM dengan pernyataan “saya tak ingin kaya”. Kau juga yang melihat debu-debu kemiskinan menempel di dinding-dinding orang desa, betul

kan

? Itu ada lagi kawan lainnya yang cuma ingin punya rumah di desa. Kita bertukar harapan. Mengutip berulang

Gorky

“orang gila tak mau mengakui dirinya gila”.

Sederhana betul hasrat kalau tak diturut. Memberi sesuai kemampuan dan menerima sesuai kebutuhan. Membaca, menulis, dan menyebarkan kita punya gelisah. Cukup segitu? Apa itu kegilaan? Nyatanya, memang dianggap begitu. Mari kita lihat, disana Aa Gym berdakwah: “orang Islam jangan ingin kaya, tapi harus kaya”. Indah betul ucapannya, seperti monster yang menghantui ketenangan manusia. Semua berlomba. Mari, mari kumpulkan terus pundi-pundi emas itu. Janganlah hidup tenang sebelum kekayaan menghampiri kalian!

Jatinangor, 25 Juli 2007

Untuk mereka yang mengajari saya hidup sederhana

Asmara Siang Itu

Hari itu pagi benar-benar cerah. Tak sedikitpun goresan kelabu mendung menggurat awan. Perihal lain saya malas berangkat ke kampus untuk kuliah. Mata serasa diplester dan kepala berat pula, kuliah pagi adalah bencana. Malam tadi baru sekitaran pukul empat mata menutup. Adzan awal berkumandang dari masjid dekat kosan adalah suara terakhir yang didengar.

Pukul sebelas lewat saya bangun. Menyalakan komputer, memainkan reggae di playslist winamp, menyeduh kopi, dan beradulah mulut dengan ujung filter sigaret. Kuliah selanjutnya masih pukul satu.

Dalam penantian, handphone berbunyi pertanda pesan singkat masuk.

“Al,nganggur ga?Dkosan gw ad si kono lg tkapar sakit niy,”tulis teman saya. Saya balas dengan sebuah janji datang sembari membawa obat, tentunya sepulang kuliah.

Benar-benar tanpa gairah saya pacu motor. Kampus bukanlah tempat yang ingin saya datangi siang ini. Kesialan menimpa menambah kesal hati. Jadwal kuliah diubah menjadi besok, pagi pukul delapan pula. Sudah terbayang besok pagi mata dipaksa menatap seringai licik matahari.

Today is real, tomorrow nonsense. Apa asiknya berandai-andai tentang esok? Yang penting siang ini saya tak perlu tersiksa mendengar dosen mendongeng ngalor-ngidul. Langsunglah meluncur ke kosan seorang karib. Niatnya mengajak menjenguk teman yang sakit tadi.

?????

Tak pernah bosan berada dalam kamar itu. Paling suka menatap dalam-dalam foto Sjahrir sedang memijit dahi seolah tenggelam dalam duka. Entah apa masalah apa yang mendera ketika gambar ini diambil. Semasa hidupnya, pasti beliau punya pelik kisah asmara. Apakah itu dalam pikirannya sehingga mimik wajahnya tak seindah cerah pagi ini? Kemungkinan besar bukan.

Kawan saya yang sedang bermasalah. Apa lacur, pendekatannya timbul-tenggelam karena kondisi yang tak menguntungkan untuk melancarkan strategi yang sudah matang digodok sejak malam-malam yang lalu. Rencana hanya menumpuk dalam otak. Terburai sia-sia dihembus bersama deras asap sigaret.

Empati. Saya pernah merasakannya. Dulu, dulu kawan, malam ketika bajigur panas dan nasehatmu menghangatkan dingin harapan. Tak sampai panjang lebar keluhan itu. Motor dilajukan lagi menuju tempat dimana teman saya terbaring lemah. Kali ini berdua, dengan teman di jok belakang motor.

?????

Hanya terbaring saja menyambut kedatangan kami. Sejurus kemudian kawan yang sakit itu menegakkan pungungnya. Duduk di atas dipan kayu dan memulai pembicaraan. Diraihnya bungkus berwarna merah-kuning-hitam berisi berbatang-batang rokok. Jari menelisik, meraih sebatang saja. Nyala merah di ujung tembakau.

“Kalau merokok masih enak, tandanya masih sehat,” simpulnya.

Asap berbaur mengiringi tuturan kisah percintaan. Bergejolak pula ternyata beliau didera asmara. Namun, Duka bisa berubah jadi tawa bila dinikmati bersama. Berempat kami duduk membentuk lingkaran mengelilingi tiga gelas teh manis hangat. Bergantian saling bicara dan mendengar. Benar-benar jurus ampuh untuk mengikis gelisah yang perlahan mulai menggumpal dalam dada.

Cerita menemui akhir ketika lembar yang lain mulai dibuka. Sementara yang lainnya bertukar kisah asmara saya moderator saja. Tak punya perkembangan yang layak dibagi. Jika saja cerita pendek kawan-kawan hari itu dibukukan, tentunya bertemakan elegi. Nyanyian duka mahasiswa meraih pasangan impiannya.

Baik juga jika kumpulan itu dibuatkan sebuah pengantar untuk membukanya. Sekilas saja, mengutip Ahmad Tohari dalam Orang-orang Proyek. “Jika otak banyak bertindak hati terabaikan. Jika hati banyak bermain otak pun tak banyak bekerja”. Itu saja. Cukup untuk melukiskan garis besar kumpulan cerita tersebut.

?????

Beberapa jam sebelumnya kantuk yang tak juga datang mendorong saya untuk menulis. Tak pernah mengira siang itu akan mendengar kisah-kisah menarik para sejawat. Berhubung otak sedang kurang tajam untuk membedah suatu masalah dengan ilmiah, lahirlah tiga bait puisi. Tetesan tinta hitam, segelap rasa ketika itu.

Aku bisa apa?

Kalau Cuma bayangmu,

bukan dirimu

Aku punya apa?

Jika bebas mimpiku

direbut imaji tentangmu

Aku harus apa?

Tak sampai hati suka kuubah jadi luka

(Lalu Apa, Jatinangor, 16 Juli 2007)

Jatinangor, 17 Juli 2007

Buat para penutur cerita hari ini

Untukmu

saya baru saja pulang dari kosan seorang kawan baik. Rencananya sebentar saja disana, tapi hitung-hitung dua jam sudah. Beliau punya masalah dan diri ini coba membantu sebisanya. Saya sempatkan mendengar keluhnya, menerbitkan sedikit asa di dada.

Sulit juga masalah dia. Ketika keluar dari pintu kosannya tiba-tiba terlontar bait-bait kalimat. Saya memutuskan menulis sedikit puisi.

Untukmu

desah gelisah

gamang meradang

selangkah pun berat terasa, sesak di dada

sayang rasa tak bisa didamaikan

meski harus diseret kaki rela saja

tanpa kaki pun diriku arang menyerah--

untukmu

Jatinangor, 15 Mei 2007

buat kawan saya, si pekerja keras yang sedang gamang...

Harmoni Hujan

Sabtu sore, hujan turun tanpa ampun. Segelas kopi dan sebatang filter sigaret menemani saya yang terduduk di balkon lantai dua rumah Arif. Sesekali mata menutup, menajamkan pendengaran, membuka anugerah harmoni suara hujan merasuk. Tenang, luar biasa damainya. Perasaan bercampur, sedikit meninggi. Mata membuka, tangan seketika meraih handphone di kantong kanan celana jeans coklat belel yang bolong besar di kedua belah dengkulnya. Tanpa takut, jemari menulis pesan singkat...

"Bandung ujan gede.Terjebak Bosan Harmoni Hujan.Mencipta Puisi, untukmu.."

pesan terkirim. Hati lega karena sudah menulis dengan jujur...

Bandung, 24 September 2007

Hal Kecil Bisa Menjadi Masalah Besar

Rasa-rasanya sudah seminggu lebih saya tak menulis. Biasanya kegiatan ini menjadi semacam pelarian. Tulisan, buat saya adalah tong sampah berisi gelisah yang menggumpal dalam otak. Seperti yang Kono sering bilang, “gelisah harus dibagi kalau tidak bisa gila sendiri”. Nah, kira-kira seperti itulah fungsi tulisan buat saya, supaya gelisah tak menyebabkan gila.

Ada beberapa hal kecil yang menyebabkan saya tak menulis seminggu ini. Lebih baik masalah itu tak saya ungkapkan disini. Namun, ada satu pelajaran yang didapat. Sampai sekarang saya anggap itu benar, karena belum ada penjelasan lainnya.

Suatu pagi di bulan ramadhan, bertepatan dengan masa Ujian Tengah Semeseter. Saya muslim, dan harus menahan segala hal yang membatalkan puasa sampai bedug magrib terdengar dari TVRI Jawa Barat. Jadilah pagi itu berbeda karena tak ada kopi dan rokok. Biasanya dua hal tersebut fardhu ain hukumnya sebelum pergi kuliah. Tanpa dua hal itu badan serasa lemas dan kantuk sulit beranjak dari kelopak mata, sehingga agak sulit untuk berpikir.

Kopi mungkin hal kecil, tapi menjadi besar ketika sudah menghambat aktivitas besar lainnya. Kuliah jadi malas-malasan, materi dari dosen selintas lalu saja di otak, membaca dan menulis pun tak ada gairah. Benda tajam sekecil silet jadi sangat berbahaya ketika melukai seorang penderita diabetes. Seperti itulah kira-kira.

Saya jadi ingat sebuah pepatah lama dari negeri Cina, “selesaikanlah dulu hal-hal kecil, dengan begitu hal besar tak akan terlewatkan”.

Jatinangor, 12 April 2007

Tiga Gelas Kopi dan Sebungkus Sigaret

Selain cuaca dan suhu kamar ketika malam, ada satu hal yang saya rasakan begitu berbeda ketika berada di Bogor, rasa sigaret yang saya hisap. Ketika di Jatinangor sigaret terasa nikmat dihisap. Saya kehilangan itu ketika di Bogor. Keluarga saya sudah tahu saya perokok, termasuk ayah saya. Tapi, ketika berada di rumah saya belum berani menghisap sigaret di depannya. Saya juga tak tahu kenapa begitu. Jadinya waktu merokok terbatas ketika ayah tak ada di rumah, ketika beliau pergi kerja atau malam saat dia sudah tidur. Jumlah batang yang dihisap pun bisa surut hingga setengah, bahkan sepertiganya. Kalau di Jatinangor sehari bisa sebungkus bahkan lebih, di Bogor sebungkus bisa bertahan hingga dua atau tiga hari. Akibatnya saya menambah masukan kopi hingga empat hingga lima gelas sehari. Kemarin saya pikir-pikir kenapa bisa rasa merokok berbeda di dua tempat. Saya pernah dengar semakin jauh sigaret dibawa dari tempat produksi, semakin berkurang juga nikmatnya; sigaret yang disimpan di tempat yang langsung diterpa sinar matahari juga bisa berkurang nikmatnya. Pikir-pikir lagi, rasanya bukan itu penyebabnya. Akhirnya saya menyimpulkan layaknya seorang ilmuwan: proporsi yang tepat dan cocok buat saya adalah tiga gelas kopi dan sebungkus rokok per hari. Hitung punya hitung sehari ongkos yang dikeluarkan mencapai sepuluh ribu rupiah (rokok tujuh ribu sebungkus dan kopi seribuan per bungkus), seminggu tujuh puluh ribu rupiah, sebulan tiga ratus ribu rupiah (hampir setengah uang bulanan saya), setahun tiga juta enam ratus ribu rupiah. Banyak juga ya?! (dibaca dengan keheranan). Coba kalau sejumlah uang di atas dipakai untuk keperluan lain, misalnya traktir teman atau kasih ke pengamen. Tapi, rasa-rasanya sulit sekali. Otak mati rasa kalau tak merokok. Untung saja ada rokok di samping saya jadi bisa mengetik tulisan ini. Bogor, 24 Maret 2007

Kemalasan = Menolak Dipaksa

Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

...apabila engkau memaksa dia

kusiapkan untukmu pemberontakan

(Wiji Thukul)

Beberapa teman mungkin menyebut saya pemalas. Betul, sangat betul, saya memang seorang pemalas.

Kemalasan, seperti ketololan, tak akan menolong siapapun. Orang malas harusnya tak boleh hidup di dunia. Maka saya tak boleh hidup di dunia, kira-kira kesimpulannya begitu.

Anggaplah saya tertuduh yang berhak mengajukan pembelaan. Saya akan ajukan. Entah diterima atau tidak itu tergantung kepada Anda sekalian yang membaca tulisan ini. Jika tulisan ini dirasa benar, bolehlah Anda menjadi terutuduh seperti saya.

Hari ini saya bangun sekitar pukul enam. Hal yang tak biasa buat saya. Bangun sepagi itu, niatnya saya akan mengerjakan tugas kuliah merangkum sekian ratus halaman tulisan dosen saya.

Niatan tersebut berjalan awalnya. Niat saya memang tak penuh, jadi beberapa kali saya harus menyelingi pekerjaan dengan main game solitaire. Akhirnya, setelah dipikir-pikir tak ada gunanya juga saya mengerjakan dengan berat hati, dengan niat yang tak penuh karena dipaksa. Saya urungkan niat menyelesaikan tugas kuliah dan lalu menonton DVD. Saya memang malas.

Di depan monitor, fotokopian yang harus dirangkum tergeletak dengan halaman yang terbuka. Persis pada sebuah halaman artikel yang ada foto penulisnya. Foto dosen saya yang memaksa untuk mengerjakan tugas ini. Mimiknya yang bahagia dan seutas senyum tak cukup kuat untuk mendorong saya melanjutkan pekerjaan merangkum. Saya tutup fotokopian itu, melemparnya, berujar kecil ”fuck”.

Kemalasan saya beralasan. Saya tak mau mengerjakan sesuatu dengan berat hati. Bukan berarti hanya ingin bersenang-senang belaka dengan menghamburkan waktu untuk hal-hal tak penting. Pekerjaan adalah sarana mencari kesenangan dan kebahagiaan. Siapa pula yang senang dipaksa? Saya kira tak banyak.

Bekerja sungguh-sungguh hanya mungkin jika kita melakukannya secara sadar dan hati yang senang. Saya kuat tak tidur hingga malam mengetik tugas kuliah yang memang saya sukai. Tidak untuk kali ini.

Rasanya banyak juga yang mengerjakan tugas pribadi (bukan kelompok) dengan berat hati. Satu tugas dibagi-bagi lalu dikumpulkan jadi satu dan diaku pekerjaannya sendiri. Saya tak bisa seperti itu, lebih baik tak mengerjakan. Meskipun caranya berbeda dengan saya, tetap saya anggap teman karena tujuannya satu: mengurangi stress akibat dipaksa mengerjakan sesuatu yang tak disukai.

Sekedar catatan akhir, pilihan saya ada akibatnya. Nilai buruk akibat banyak tugas yang tak dikerjakan. Paksaan selalu disertai sanksi, tidak bisa tidak. Dosen itu bisa bertindak seperti hakim dan polisi yang merampas kebebasan kita dengan sanksi. Saya menolak bekerja, bukan karena malas tapi karena dipaksa! Dalam kasus ini kemalasan saya artikan seperti sebentuk pemberontakan

Jatinangor, 29 Maret 2007

Kerja Sosial, Ceunah Mah

Suatu malam perbincangan dengan dua orang karib di kamar kosan menghantar sebuah refleksi buat saya pribadi. Perihal kerja sosial menjadi satu diantara banyak tema malam itu. Walau sebentar dan sedikit, tapi ternyata mendorong untuk menulis pagi ini. Alih-alih membagi sedikit pengalaman, saya kira ini bisa menjadi renungan bersama buat kita yang hidup di zaman serba komersil sekarang ini.

Beberapa bulan sebelum pagi ini datang sebuah film saya tonton, judulnya the Corporation. Sangat nyata, menyentuh, dan lugas membahas luka-luka borok mengangga di tubuh kapitalisme, dimana perusahaan menjadi tulang punggungnya. Saya tak bisa mengingat bagian per bagian film tersebut dan akan butuh waktu lama untuk menulis pargraf panjang mengulas film tersebut. Satu pertanyaan singkat diajukan dalam sebuah sub bagian: “bagaimana jika anda bangun di pagi hari dan menemukan bahwa hubungan yang anda jalin selama ini semuanya didasari kepentingan ekonomi?”

Pertanyaan di atas menarik tentunya. Coba saja anda hitung-hitung sejak anda bangun sampai tertidur kembali, berapa banyak hubungan yang dilandasi kepentingan ekonomi dan tidak. Karena menunggak uang kosan hubungan dengan bapak kos menjadi renggang; pergi ke kampus naik ojek harus membayar; sampai di kampus beli rokok, makanan, dan kopi, ekonomi lagi. Rasa-rasanya memang kebanyakan hubungan kita dengan orang lain diperantarai uang.

Lalu bagaimana hidup tanpa uang? Sulit atau bahkan tak mungkin. Pertanyaannya saya ganti, bagaimana jika kita bekerja bukan demi uang? Buat saya yang masih mendapat sokongan penuh dana dari orang tua hal tersebut sangatlah mungkin dan buat mereka yang sudah bekerja menjadi sangat mungkin sekali.

Selama kerja menghasilkan uang yang dilakukan tidak mengambil seluruh porsi waktu kerja kita, masih ada kemungkinan untuk melakukan kerja nirupah (tak berupah). Ambil contoh paman dan seorang teman saya yang keduanya bekerja sebagai pendidik di institusi pendidikan formal, di sela-sela jadwal mencari uang mereka menyempatkan diri dan melapngkan hati tak dibayar untuk mendidik lewat jalur pendidikan non-formal (non-sekolahan). Setelah ditanya ternyata keduanya lebih menikmati mendidik tanpa dibayar di jalur non-formal. Untuk kesenangan hidup katanya. Berbuat bagi orang lain tanpa dilandasi hasrat ekonomi.

Tapi kadangkala menyempatkan waktu dan mengikhlaskan diri saja tak cukup. Kocek harus dirogoh untuk membiayai kesenangan hidup mengajar—jauh lebih positif dibandingkan hambur uang ke disko. Jadi kerja demi upah tetap penting untuk membiayai kesenangan positif mereka.

Kerja upahan seringkali tak menyenangkan. Tapi mau apa lagi, buruh cuma punya tenaga dan wartawan cuma punya ijazah dan sedikit keahlian menulis berita. Suka tak suka di dalam zaman serba komerrsil kita semua akan menjadi pekerja upahan jika tak punya cukup warisan untuk hidup tujuh turunan atau modal besar untuk mendirikan perusahaan.

Sudah enam semester saya kuliah di jurusan jurnalistik yang lulusannya kelak akan menjadi wartawan upahan. Selama itu pula keinginan menjadi wartawan yang diidamkan sejak dulu sudah saya pendam dalam-dalam. Tak ingin diri ini diperintah sana-sini cari berita. Tapi mau apa lagi cuma itu peluang yang mungkin dan paling terbuka lebar. Tapi harapan besar terbersit selalu, mudah-mudahan saya bisa menikmati kesenangan hidup bekerja dengan kesadaran sendiri untuk kemaslahatan bersama seperti paman dan teman saya.

Jatinangor, 13 Maret 2007

Tentang Petani Tua

Pakaiannya sederhana. Sekedar Membungkus kulitnya yang mengendur. Ketuaan jelas nampak dari kerutan wajah. Kacamata menggantung di daun telinga, ditopang hidung yang agak besar. Kopiah rajutan dengan wrana biru membentuk pola zig-zag menutupi uban yang jarang-jarang. Beliau bilang dirinya kelahiran tahun 1926. Kemana-mana beliau ditemani sebuah tongkat untuk membantu tulangnya yang mulai lemah. Kekaguman segera menyerap perhatian saya ketika bicara dengannya, ingatan pak tua tak lekang oleh ketuaan.

Samsir. Samsir Mohammad lengkapnya. Saya merasakan keberuntungan yang begitu besar bisa bertemu dengannya. Jabatan tangannya begitu erat ketika menyalami tangan saya yang kedinginan akibat terpaan angin malam, saya merasakan kehangatan yang begitu besar.

Petani tua, orang biasa menjuluki Samsir. Alkisah, dia ditawari membuat Kartu Tanda Penduduk oleh pegawai kecamatan. Beliau menerimanya dengan sebuah pertanyaan diajukan pegawai kecamatan.

Kepulan asap rokok mengepul dari mulut petani tua. Beliau perokok kuat, mungkin hanya jeda setengah jam saja dari batang satu ke batang berikutnya. Sigaretnya kretek, namun tak segan berganti jenis dengan meminta milik lawan bicaranya, ketika batang sigaret terakhirnya sudah habis dihisap.

“pekerjaan?”

“petani,” jawab Samsir

Pegawai terbenggong heran

“ngak biasa ternyata petani bikin KTP,” terang Samsir pada saya.

“dari situ orang sebut saya si Petani Tua,” tambahnya.

Seorang teman saya berkelakar dengan menjuluki Samsir Pendekar Tua dari Lereng Burangrang. Sama seperti Rasulullah menambah kata Al-Ghifari di belakang nama Abu Dzar sahabatnya. Ya, Samsir hidup (atau dia bilang menumpang) di Lereng Burangrang, daerah terpencil di sudut Kota Bandung. Tempat terpencil yang bahkan tak diketahui oleh teman saya yang asli Bandung.

Meski pintar, Samsir tak bicara dengan bahasa y