Dunia kekurangan air. Petaka ini sebenarnya sudah lama terjadi di berbagai belahan dunia. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mahfum dan menjadikan Coping With Water Scarcity, the Chalengge of the Twenty-first Century sebagai tema Hari Air Dunia tahun ini.
Tepat dua minggu sebelum Hari Air Dunia diperingati, 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Perayaan ini merupakan momen bagi berbagai gerakan wanita untuk merefleksikan perannya dalam
Air dan Dunia. Dua hal yang bertemu padu dalam percik pemikiran dan tindakan seorang filsuf, fisikawan, ekofeminis, sekaligus pendiri gerakan Diverse Women for Diversity Vandana Shiva. Berbagai studi dan gerakan yang dilakukannya, tidak hanya di India sebagai tanah airnya tapi juga di belahan dunia lainnya, menekankan pentingnya prinsip feminim dalam membaca berbagai petaka alam akibat pembangunan.
Air sebagai sumber daya alam merupakan unsur penting dalam proses produksi. Penggunaannya secara berlebihan, dalam pandangan Vandana Shiva, mengakibatkan berkurangnya pasokan air dan berbagai kerusakan alam lainnya. Pembangunan kapitalistik a la Barat yang meninggalkan prinsip-prinsip feminim merusak alam sebagai sebuah kesatuan.
Secuil Gagasan Vandana Shiva
Feminisme berangkat dari kesadaran akan ketidaksetaraan terhadap kaum perempuan. Sebagai sebuah teori perubahan sosial kemunculannya merupakan kritik atas teori pembangunan yang berkembang pada akhir tahun 70-an. Beragam perspektif ditawarkan feminisme untuk menganalisis penyebab ketidaksetaraan yang diderita kaum perempuan. Keragaman yang kemudian menghasilkan bentuk-bentuk tindakan perlawanan yang berbeda pula.
Feminisme liberal memandang ketertindasan perempuan diakibatkan kurangnya partisipasi mereka dalam pembangunan. Ketidakikutsertaan perempuan dalam proses pembangunan dengan sendirinya akan mengakibatkan gagalnya proses tersebut. Maka dari itu, gerakan yang dibangun oleh feminisme liberal menekan pentingnya partisipasi yang adil dalam sistem yang sudah ada, bukan merubah sistem itu sendiri. (Fakih 2001:147-151)
Sementara itu, Feminisme Marxis beranggapan bahwa ketertindasan perempuan diakibatkan oleh perubahan dalam organisasi sosial dalam harta dan kekayaan. Perubahan cara manusia mengorganisasi alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya—perempuan memiliki andil juga di dalamnya—mengakibatkan ketertindasan perempuan. Karya Engels Asal-usul Negara dan Kepemilikan Pribadi banyak dirujuk oleh aliran ini.
Vandana Shiva bukanlah seorang feminis liberal ataupun Marxis. Namun, seperti feminisme Marxis dia menolak pembangunan yang kapitalistik. Ilmu pengetahuan modern yang dicetuskan bapak pengetahuan modern Francis Bacon dituding menjadi cikal-bakal pembangunan bercorak kapitalistik yang meminggirkan perempuan dan sifat-sifatnya dalam proses produksi. Tak salah jika kemudian Shiva menyebut ilmu pengetahuan modern sebagai proyek patriarki barat.
Kapitalisme menekankan produktivitas yang tinggi atas penciptaan berbagai komoditi. Penggunaan sumber daya alam terus dinaikkan ke tingkat yang paling efisien dengan penciptaan-penciptaan teknologi terbaru. Cara-cara produksi tradisional ditinggalkan karena dianggap tak efisien sehingga tak mampu menghasilkan laba yang tinggi.
Vandana Shiva menyebut cara produksi seperti itu sebagai pembangunan yang timpang karena melanggar integritas sistem-sistem organik yang saling berkaitan dan bergantung (Shiva 1997:7). Alam dilihat sebagai objek yang pasif dan bisa ditundukkan semaunya demi mengejar keuntungan semata.
Permasalahan Air
Air sebagai bagian dari alam dan sumber daya penting bagi proses produksi termasuk objek yang coba ditundukkan oleh corak produksi kapitalisme. Sungai dibendung, air tanah disedot oleh pompa-pompa berkekuatan besar, hutan sebagai daerah tangkapan air digunduli oleh proyek-proyek pembangunan bernilai jutaan dolar. Hujan dianggap sebagai sesuatu yang datang begitu saja dan segera memerbarui air yang hilang akibat penggunaan secara besar-besaran untuk produksi komoditi.
Disitulah letak kesalahan besar pembangunan. Menurut Shiva (1997) air tak dapat diperbesar atau dibangun. Ketersediaan air di bumi merupakan kesatuan yang dibatasi oleh siklus air. Bendungan yang dibangun untuk mengairi lahan-lahan perkebunan mengonsentrasikan air di satu tempat. Hal ini menyebabkan penggenangan di satu titik dan mengurangi pasokan air tawar ke laut yang bisa menyebabkan erosi akibat kadar garam yang terlalu tinggi.
Penebangan hutan-hutan secara besar-besaran untuk kemudian dijadikan lahan pertanian tanaman perdagangan merusak daerah tangkapan hujan alami yang berfungsi dalam siklus air. Usaha untuk memperluas perkebunan kelapa sawit di pelosok Sumatra dan Kalimantan tanpa disadari menyerap air secara berlebih karena karakteristik tanaman ini yang haus air. Penciptaan biodiesel—dengan kelapa sawit sebagai bahan mentahnya—yang ramah lingkungan ternyata menyebabkan dampak ekologis merusak.
Terganggunya siklus air juga menyebabkan kesengsaraan perempuan. Teknologi-teknologi penyerapan air seperti pompa menyingkirkan perempuan dari pekerjaan sebagi pengambil air. Sementara itu di daerah dimana pompa belum digunakan, kekeringan menyebabkan perempuan harus berjalan lebih jauh mencari sumber air karena sumber air yang lebih dekat sudah tak bisa diharapkan lagi.
Ketersediaan air juga berkaitan dengan tingkat kemiskinan. Seperti kita tahu kebanyakan rakyat miskin dunia hidup di pedesaan dan mengantungkan hidupnya dengan bertani. Penyediaan air untuk irigasi pertanian merupakan jalan untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan. Untuk banyak negara Afrika pertanian merupakan prinsip penting bagi perkembangan sosial (brosur Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Hari Air Dunia 2007).
Kenyataan sebaliknya terjadi di Ethiopia, pembangunan sarana pengairan justru mengakibatkan bencana bagi masyarakat pribumi. Pembangunan bendungan yang didanai Bank Dunia justru mengairi perkebunan tebu, kapas, dan pisang milik perusahaan-perusahaan kaya Ethiopia, Belanda, Italia, Israel, dan Inggris. Akibat dari pembangunan tersebut adalah kekeringan di bagian hilir dan banjir yang melanda bagian hulu. Pekerjaan masyarakat asli seperti kaum Afar yang penggembala menjadi terganggu dan kekeringan yang terjadi di tahun 1972 mengakibatkan kematian sekitar 30 persen populasinya (Shiva 1997:245-246)
Millenium Development Goals
Hal yang dituding oleh PBB menyebabkan kelangkaan air adalah pertumbuhan penduduk yang tak seimbang dengan persediaan air dan perubahan iklim. Untuk mengatasinya PBB menelurkan gagasan peningkatan investasi untuk penyediaan akses air dan sanitasi demi menyukseskan Millenium Development Goals (MDG) yang akan berakhir pada tahun 2015.
Perempuan menjadi aspek penting dalam ketersediaan air. Pasal 3 Millenium Development Goals, Water and Women menyebutkan bahwa kesetaraan gender merupakan kunci sukses pembangunan, yang tentunya berkaitan dengan ketersediaan air. Di sisi lain, perempuan adalah bagian mayoritas dari kemiskinan akibat rendahnya akses terhadap pendidikan formal (pasal 1). Maka, akses perempuan terhadap pendidikan merupakan hal utama untuk mengakhiri lingkaran kemiskinan (pasal 3).
Di Indonesia sendiri, angka melek huruf perempuan masih dibawah jumlah laki-laki yang melek huruf dan rata-rata melek huruf nasional. Partisipasi murid perempuan dalam kurun 10 tahun belakangan hanya 49 persen dibanding lelaki. Angka tersebut terus menurun seiring naiknya jenjang pendidikan—46 persen SMP, 41 persen SMA, dan 33 persen di tingkat Universitas (Jurnal Perempuan No. 42, 2005).
Dari data di atas ketidaksetaraan gender dalam akses pendidikan memang masih terjadi di Indonesia. Untuk itu, kesetaraan pendidikan memang perlu diusahakan.
Yang menjadi pertanyaan, pendidikan macam apa yang akan diusahakan? Merujuk pandangan Shiva pendidikan gaya barat justru menghasilkan pembangunan yang maskulin dan menyingkirkan prinsip-prinsip alam yang feminin. Pandangan reduksionis memaksakan pada perempuan, masyarakat non-barat dan bahkan pada alam, peran-peran dan bentuk kekuasaan yang berorientasi pada laki-laki. Maka, ketiganya—perempuan, masyarakat non-barat, dan alam—menjadi serba kekurangan (Shiva 1997:7). Pengetahuan tradisional masyarakat asli dalam mengorganisasi alam justru lebih terbukti mampu mencegah bencana ekologis.
Hal lain yang juga perlu dipertanyakan adalah investasi yang akan digalakkan dalam penyediaan akses terhadap air dan sanitasi. Fakta yang terjadi sekarang investasi justru seringkali berujung pada privatisasi yang menyempitkan akses terhadap sumber-sumber kehidupan yang penting atau bahkan menyebabkan bencana kemanusiaan seperti yang terjadi di Ethiopia.
Lalu, masihkah kita harus optimis permasalahan kekurangan air, kesetaraan gender, dan kemiskinan akan terhapuskan dari lembar hitam sejarah dunia pada tahun 2015, sementara cara-cara penyelesaian yang digunakan justru mengakibatkan masalah-masalah yang sekarang harus kita hadapi?
Recent Comments