« Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan | Main | Waktu Hujan Sore-sore »

Perkabungan

Di sebuah pertigaan saya menghentikan langkah, sadar kehilangan arah. ’Ikutin aja taburan bunganya,’ pakde tahu saya kebingungan, berujar sambil melirik ke arah bawah. Kami berbelok ke kanan. Di kejauhan rombongan pengantar jenazah berjalan cepat. Meninggalkan kepulan asap menyan dengan bau yang khas. Kemenyan memang punya semerbak yang bisa tercium dari jarak cukup jauh.

Saya tak mencoba memercepat langkah. Jalanan berpasir, kanan-kirinya kebun salak membentang. Daerah ini, Kecamatan Pules, memang terkenal sebagai penghasil salak pondoh. Di pasar harganya lebih mahal disbanding salak jenis lain. Rasanya manis dan tidak meninggalkan ampas di bijinya jika digigit.

Pohon bambu dan kelapa yang menjulang berbaris di sisi-sisi kebun. Matahari tertutup dedaunan yang berdesakan. Got kecil di sisi kanan. Bukan, bukan got. Kata itu ingatkan saya pada aliran pembuangan yang keruh sampah. Air disini jernihnya melebihi aliran PDAM untuk mandi di rumah.

Gemericik aliran air menerjang kerikil. Gemerisik daun beradu diterpa angin. Ah, harmoni yang lama betul tak saya temukan. Ingin menepi barang sebentar. Menutup mata. Jenak menyumbu sekitaran. Tidak, tidak saat ini. Rombongan makin jauh di depan sana. Saya bakal tertinggal perkabungan.

Kuburan di Jogja punya tempat dan bentuk berbeda dengan di Bogor. Di Jogja kuburan selalu punya gerbang, betapapun sederhananya. Sekeliling dibangun pagar pembatas. Di Bogor kerap kali kuburan diselipi jalan umum di tengahnya, kematian cuma sampiran dari keseharian.

Seperti masuk masjid, alas kaki harus dilepas di gerbang kuburan. Sepertinya kematian dan kehidupan sama sucinya buat penduduk sini. Ow, tidak. Beberapa pelayat berpakaian necis pakai alas kaki juga. Mereka tak tahu adat sekitar.

Seperti biasa pemakaman diakhiri dengan nisan yang menancap. Sebiji kelapa ditaruh di atas makam, menandakan kalau makam ini masih baru. Satu-satu pelayat pergi meninggalkan sanak famili almarhum yang masih berjongkok masyuk mengelilingi kuburan. Ada yang berdoa dan menabur bunga.

Berjejer pelayat di sisi got kecil depan kuburan. Bergantian membasuh kaki yang dilekati pasir dan tanah. Saya turut, menggulung celana panjang hingga dengkul lalu turun ke sungai. Segar aliran air jernih menerpa kaki. Melepas butiran pasir. Di belakang pelayat lain menunggu. Saya harus lekas meski masih betah.

Nah, akan menepi kau sebentar

Di luar ada karnaval knalpot dan raung jam yang selalu meminta,

Ada perkabungan yang cepat ditinggalkan

Ada yang gemetar di bawah permukaan,

Gagal kau berikan nama

(Anonim, Puisi di tembok salah satu gang Ps. Beringharjo, Jogja)

Seloroh obrolan memenuhi isi mobil. Delapan orang tinggalkan perkabungan di desa, kembali ke kota menjajaki hidup. Air Conditioner bikin panas udara Jogja tidak berasa. Saya duduk di kursi paling belakang, pojok sebelah. Memandang suasana di luar jendela. Ada gedung-gedung mewah berdiri; motor dan mobil berseliweran dikejar waktu, terhenti oleh lampu merah di sebuah perempatan besar yang ramai spanduk dan iklan ukuran raksasa.

Mobil begerak lagi selepas lampu berganti hijau. Kendaraan tarik gas penuh. Sore menjelang, pekerjaan masih menumpuk. Nanti malam kalian masih punya janji. Ah,kematian memang membebaskan manusia dari penjara kehidupan. Wahai perkabungan kau menyenangkan sukacita kau menyedihkan...

Jogjakarta, 21 Juni 2008

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .