« Tetirah Kebijaksanaan | Main | Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan »

Bukan Kebahagiaan, Tapi Keajaiban

Sudara tahu, saya kenal seorang perempuan dengan kemampuan ajaib? Ya, betul, Anda tidak percaya? Dia bisa mencipta kebahagiaan dan kesengsaraan dalam satu waktu. Jawaban dan pertanyaan dia hadirkan dalam satu kalimat. Yang paling mengherankan adalah mukjizatnya yang menampilkan harapan dan keputusasaan sekaligus dengan sekali petik jari saja, sim salabim.


Perempuan itu berbeda dengan perempuan ajaib umumnya. Dia tidak bersayap, tidak pula punggungnya bolong sebesar kepalan tangan. Oh, Anda kira dia berjubah putih dengan tubuh melayang sejengkal dari tanah dan kepala selalu menunduk yang ditumbuhi rambut panjang? Anda salah.


Sedikit saya gambarkan bagaimana rupa dirinya. Rambutnya panjang dan agak bergelombang, setahu saya dia tak pernah mencoba membuatnya lurus. Sekali pernah dia cat kecoklatan, dan saya keheranan melihatnya, seperti kami berdua belum pernah kenal. Yang saya kenal adalah rambut panjang yang diikat atau dikepang. Kadang dia membuat dua kepangan, dan itu membuat sebuah gambar di otak saya. Membayangkan dia menggunakan kebaya mengendong wadah cucian menuju sungai terdekat.


Matanya agak besar dengan hidung kecil-pesek di bawahnya. Tengkorak lancip menopang keduanya. Dia punya bibir tak bisa dibilang mungil, namun saya berani bertaruh Anda akan menyebutnya menarik. Apalagi kalau sudah mendengar suara sumbangnya bernyanyi. Penyanyi karbitan yang belum pernah sekalipun masuk dapur rekaman pun tak bisa dia kalahkan. Dan memang, saya tak menunggu dia bernyanyi, saya menunggunya berceloteh ria, mendedah kesepian dengan cericit kalimat-kalimat ngawur.


Tubuhnya kurus. Empat puluh dua kilogram, terakhir dia bilang. Meskipun saya lebih lima kilogram darinya, dia tetap sebut saya teralu kurus. Tingginya tak sampai setelinga saya. Andai dia lebih tinggi dua puluh atau tiga puluh sentimeter, mungkin bisa jadi pramugari atau model terkenal.


Kalau sudara tak juga tertarik, berarti saya yang tidak cukup mahir menggambarkan rupa si perempuan. Anda harus melihatnya sendiri. Ah, andai Anda kenal dengannya dua atau tiga tahun lalu, Anda bisa melihat tato temporer kecil bergambar kupu-kupu sedikit di atas mata kakinya. Bentuknya tak jauh dengan gambar yang saya tempel di depan kamar tidur saya, ukurannya saja yang berbeda.


Malam itu, ketika bintang tak berpihak pada malam, sewaktu panas tak juga menyulut cucuran hujan. Tanpa alunan biola, ataupun lilin-lilin yang berderet. Kami berdua saja, di pojok kanan bangku halte kecoklatan yang penuh coretan, di depan dinding yang ramai oleh tempelan pamflet iklan. Sambil menopangkan dagu di atas telapak tangan kiri, mata cekung saya menatapnya dalam. Ahh, dia tersenyum. Kami bertukar senyum.


Dan, sim salabim, abrakadabra, malam itu senyumnya mencipta keajaiban, lagi...


Jatinangor, 10 Desember 2007

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .