Perkabungan

Di sebuah pertigaan saya menghentikan langkah, sadar kehilangan arah. ’Ikutin aja taburan bunganya,’ pakde tahu saya kebingungan, berujar sambil melirik ke arah bawah. Kami berbelok ke kanan. Di kejauhan rombongan pengantar jenazah berjalan cepat. Meninggalkan kepulan asap menyan dengan bau yang khas. Kemenyan memang punya semerbak yang bisa tercium dari jarak cukup jauh.

Saya tak mencoba memercepat langkah. Jalanan berpasir, kanan-kirinya kebun salak membentang. Daerah ini, Kecamatan Pules, memang terkenal sebagai penghasil salak pondoh. Di pasar harganya lebih mahal disbanding salak jenis lain. Rasanya manis dan tidak meninggalkan ampas di bijinya jika digigit.

Pohon bambu dan kelapa yang menjulang berbaris di sisi-sisi kebun. Matahari tertutup dedaunan yang berdesakan. Got kecil di sisi kanan. Bukan, bukan got. Kata itu ingatkan saya pada aliran pembuangan yang keruh sampah. Air disini jernihnya melebihi aliran PDAM untuk mandi di rumah.

Gemericik aliran air menerjang kerikil. Gemerisik daun beradu diterpa angin. Ah, harmoni yang lama betul tak saya temukan. Ingin menepi barang sebentar. Menutup mata. Jenak menyumbu sekitaran. Tidak, tidak saat ini. Rombongan makin jauh di depan sana. Saya bakal tertinggal perkabungan.

Kuburan di Jogja punya tempat dan bentuk berbeda dengan di Bogor. Di Jogja kuburan selalu punya gerbang, betapapun sederhananya. Sekeliling dibangun pagar pembatas. Di Bogor kerap kali kuburan diselipi jalan umum di tengahnya, kematian cuma sampiran dari keseharian.

Seperti masuk masjid, alas kaki harus dilepas di gerbang kuburan. Sepertinya kematian dan kehidupan sama sucinya buat penduduk sini. Ow, tidak. Beberapa pelayat berpakaian necis pakai alas kaki juga. Mereka tak tahu adat sekitar.

Seperti biasa pemakaman diakhiri dengan nisan yang menancap. Sebiji kelapa ditaruh di atas makam, menandakan kalau makam ini masih baru. Satu-satu pelayat pergi meninggalkan sanak famili almarhum yang masih berjongkok masyuk mengelilingi kuburan. Ada yang berdoa dan menabur bunga.

Berjejer pelayat di sisi got kecil depan kuburan. Bergantian membasuh kaki yang dilekati pasir dan tanah. Saya turut, menggulung celana panjang hingga dengkul lalu turun ke sungai. Segar aliran air jernih menerpa kaki. Melepas butiran pasir. Di belakang pelayat lain menunggu. Saya harus lekas meski masih betah.

Nah, akan menepi kau sebentar

Di luar ada karnaval knalpot dan raung jam yang selalu meminta,

Ada perkabungan yang cepat ditinggalkan

Ada yang gemetar di bawah permukaan,

Gagal kau berikan nama

(Anonim, Puisi di tembok salah satu gang Ps. Beringharjo, Jogja)

Seloroh obrolan memenuhi isi mobil. Delapan orang tinggalkan perkabungan di desa, kembali ke kota menjajaki hidup. Air Conditioner bikin panas udara Jogja tidak berasa. Saya duduk di kursi paling belakang, pojok sebelah. Memandang suasana di luar jendela. Ada gedung-gedung mewah berdiri; motor dan mobil berseliweran dikejar waktu, terhenti oleh lampu merah di sebuah perempatan besar yang ramai spanduk dan iklan ukuran raksasa.

Mobil begerak lagi selepas lampu berganti hijau. Kendaraan tarik gas penuh. Sore menjelang, pekerjaan masih menumpuk. Nanti malam kalian masih punya janji. Ah,kematian memang membebaskan manusia dari penjara kehidupan. Wahai perkabungan kau menyenangkan sukacita kau menyedihkan...

Jogjakarta, 21 Juni 2008

                            

Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan

Sendal pijat dari kayu dengan tonjolan-tonjolan seperti barisan kapsul sebesar ibu jari, melayang. Berhenti dan jatuh di lantai setelah beradu dengan tembok kamar. Sedetik lalu melayang persis di samping kaki saya yang reflek melompat. Putaran tangannya, tangan ibu saya, masih hebat seperti ketika menyabet berbagai piala kejuaraan badminton, tenis meja, dan voli saat perayaan HUT RI beberapa tahun lalu. Ketepatannya belum berkurang, karena dia masih senang berlatih. Hanya saja, siang itu, saya bukan lawan yang ingin dikalahkannya dengan smash-smash tajam. Saya hanya anak nakal yang membuat kesal hati ibunya. Tubuh kecil saya bergetar setelah bunyi dakk akibat benturan sendal dengan tembok, ibu melengang pergi ke luar kamar. Meninggalkan sendal yang luput.

Lemparan itu menghilang ketika saya beranjak besar. Mengakrabi dunia coba-coba anak SMP. Bolos, merokok, alkohol Ibu tak pernah tahu kecuali hal yang pertama. “Aal, biar papa yang ngurus, mama udah nggak sanggup lagi,” intonasinya sama seperti tahun-tahun yang lalu. Kelopak mata saya basah, sesal tertunda menitik, air mata yang tak pernah ke luar saat lemparan barang luput atau tamparan keras memerahkan pipi saya. Malam itu saya memilih dilempar atau ditampar saja, jangan keluar kalimat itu dari mulutmu, ibu.

Dua puluh satu tahun lalu. Seorang perempuan dengan janin berusia sembilan bulan, jatuh dari becak. Kepalanya membentur bemper belakang truk. Beberapa jam kemudian sejarah tercatat: dari empat kali kelahiran, kali ini yang paling lama dan menyulitkan.

Tak pernah terpikir di otaknya, betapa sulit melahirakan dan membesarkan anak. Sepertinya lebih sulit dari tahun-tahun perjuangan beliau saat ditinggal ibu yang meninggal dan bapak yang dibui akibat tragedi politik paling kejam di Indonesia. Dia hidup bersama ibu tiri. Sampai dua puluh tahun kemudian bapaknya dibebaskan dengan tanda ET di Kartu Tanda Penduduk.

Pagi sebelum berangkat sekolah, nasi harus sudah masak. Sebuah sepeda tua dikayuh, menyusuri jalanan Jogja menuju sekolah tanpa sepeserpun uang saku. Kadang roda berhenti di sebuah kuburan Cina. Perempuan itu tertidur setelah sehari kemarin pekerjaan begitu berat. Mengaduk puluhan loyang kue, mencuci baju sendiri, membeli baju lalu menjualnya lagi.

Ya, sejak lama ibu berjualan pakaian. Karir yang sudah dirintisnya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Umur dua belas, Surabaya dia datangi bersama adik lelaki yang umurnya masih enam tahun dan sekarung pakaian dari Ps. Beringharjo. Tak ada alamat lengkap, hanya petunjuk lisan menempel di ingatan. Modal yang kemudian digunakannya saat jadi kurir ke Jakarta.

Orang-orang Ps. Beringharjo, seperti juga pedagang Mester dan Tanah Abang, sudah pada tahu. Perempuan itu masih jualan baju sampai sekarang, untuk biaya sekolah empat anaknya.

Jadi penjaga karcis PJKA pernah juga dia jalani. Tak bisa dia jadi pegawai kantoran, cuma tamat SMA dengan angka merah berjejer di ijazah dan rapor. Ya, dia senang tidur di kuburan cina saat jam pelajaran.

Kesehatannya jauh menurun, dibandingkan ketika muda dulu. Ibu masih keras kepala jika diminta jangan bekerja terlalu berat. Semangatnya tak pernah mengkerut meski uban satu-satu memenuhi rambut. Dan kerut di wajahnya semakin nampak, aah saya ingat janji membelikannya Oil of Ulan jika dapat gaji pertama. Kerut-kerut yang nampak indah jika semua anaknya berkumpul saat liburan.

Dia tak pernah melempar sendal pada adik saya. Sesekali saja saya lihat air mata menitik membasahi pipi dan mukenanya di dua pertiga malam. Kepalanya menyandar di tembok, suara lirih, dan terbata. Di doa ibu kudengar ada namaku disebut.

Bogor, 21 Desember 2007

Bukan Kebahagiaan, Tapi Keajaiban

Sudara tahu, saya kenal seorang perempuan dengan kemampuan ajaib? Ya, betul, Anda tidak percaya? Dia bisa mencipta kebahagiaan dan kesengsaraan dalam satu waktu. Jawaban dan pertanyaan dia hadirkan dalam satu kalimat. Yang paling mengherankan adalah mukjizatnya yang menampilkan harapan dan keputusasaan sekaligus dengan sekali petik jari saja, sim salabim.


Perempuan itu berbeda dengan perempuan ajaib umumnya. Dia tidak bersayap, tidak pula punggungnya bolong sebesar kepalan tangan. Oh, Anda kira dia berjubah putih dengan tubuh melayang sejengkal dari tanah dan kepala selalu menunduk yang ditumbuhi rambut panjang? Anda salah.


Sedikit saya gambarkan bagaimana rupa dirinya. Rambutnya panjang dan agak bergelombang, setahu saya dia tak pernah mencoba membuatnya lurus. Sekali pernah dia cat kecoklatan, dan saya keheranan melihatnya, seperti kami berdua belum pernah kenal. Yang saya kenal adalah rambut panjang yang diikat atau dikepang. Kadang dia membuat dua kepangan, dan itu membuat sebuah gambar di otak saya. Membayangkan dia menggunakan kebaya mengendong wadah cucian menuju sungai terdekat.


Matanya agak besar dengan hidung kecil-pesek di bawahnya. Tengkorak lancip menopang keduanya. Dia punya bibir tak bisa dibilang mungil, namun saya berani bertaruh Anda akan menyebutnya menarik. Apalagi kalau sudah mendengar suara sumbangnya bernyanyi. Penyanyi karbitan yang belum pernah sekalipun masuk dapur rekaman pun tak bisa dia kalahkan. Dan memang, saya tak menunggu dia bernyanyi, saya menunggunya berceloteh ria, mendedah kesepian dengan cericit kalimat-kalimat ngawur.


Tubuhnya kurus. Empat puluh dua kilogram, terakhir dia bilang. Meskipun saya lebih lima kilogram darinya, dia tetap sebut saya teralu kurus. Tingginya tak sampai setelinga saya. Andai dia lebih tinggi dua puluh atau tiga puluh sentimeter, mungkin bisa jadi pramugari atau model terkenal.


Kalau sudara tak juga tertarik, berarti saya yang tidak cukup mahir menggambarkan rupa si perempuan. Anda harus melihatnya sendiri. Ah, andai Anda kenal dengannya dua atau tiga tahun lalu, Anda bisa melihat tato temporer kecil bergambar kupu-kupu sedikit di atas mata kakinya. Bentuknya tak jauh dengan gambar yang saya tempel di depan kamar tidur saya, ukurannya saja yang berbeda.


Malam itu, ketika bintang tak berpihak pada malam, sewaktu panas tak juga menyulut cucuran hujan. Tanpa alunan biola, ataupun lilin-lilin yang berderet. Kami berdua saja, di pojok kanan bangku halte kecoklatan yang penuh coretan, di depan dinding yang ramai oleh tempelan pamflet iklan. Sambil menopangkan dagu di atas telapak tangan kiri, mata cekung saya menatapnya dalam. Ahh, dia tersenyum. Kami bertukar senyum.


Dan, sim salabim, abrakadabra, malam itu senyumnya mencipta keajaiban, lagi...


Jatinangor, 10 Desember 2007

Tetirah Kebijaksanaan

Pemuda itu mengganti posisi tubunya, kali ini berdiri setelah sejam berjongkok membuat kakinya gemetaran. Putih pudar bajunya, celana abu-abu gombrong yang pinganggnya agak turun, dan sepasang sepatu converse tua ukuran 42 yang dikelilingi lakban hitam membungkus kakinya. Apakah penampakannya sebegitu menarik sehingga penjaga Gramedia tak mau melepaskan pandang darinya?


Penjaga itu adalah lelaki yang kemarin menegur si pemuda karena membaca sambil berjongkok. Lalu-lalang pengunjung toko jadi terhalang karenanya. Dan si penjaga sudah hapal betul jam-jam dimana si pemuda membutuhkan pengawasan darinya. Pukul dua sampai pukul empat pada senin, rabu, dan Jumat; pukul dua sampai tiga saban selasa, kamis, sabtu. Hubungan yang aneh, keduanya tak saling mengenal nama.


Casio warna biru-hitam di tangan kiri sudah menunjukkan angka 16:15. Saatnya menjabat tangan dan mengucap salam perpisahan dengan Socrates, teman baru yang dikenalnya dua hari lalu di sebuah lorong gelap, sempit, dan bercabang banyak bernama filsafat. 


Socrates adalah salah seorang warga Ionia yang menarik. Parasnya tidak ganteng, berpadu dengan tubuh tambun-pendek. Kepalanya agak botak. Selain bekerja sebagai tukang kayu, dia suka berjalan-jalan di pasar dan tempat ramai, berbincang dengan para pemuda, serta menelusuri seluk-beluk hal-hal yang sudah dianggap sebagai kebenaran oleh para warga Ionia. Keisengannya itu, membuatnya tak disukai banyak orang. Socrates menebar benih kegelisahan dengan mempertanyakan segala sesuatu.


Si pemuda tercenung. Kabar diterima bahwa Socrates diajukan ke pengadilan. Lebih dari setengah juri menganggapnya bersalah, sehingga harus dihukum. Dua pilihan diajukan padanya: ditebus dengan beberapa keping uang atau meminum racun hingga tewas. Meski jumlah uang tebusan Cuma recehan saja buat Plato, muridnya yang kaya raya dan ingin gurunya tetap hidup, namun dia memilih meminum racun. Dia tak mengakui dirinya salah, dia tak menganggap keisengannya menyebarkan ketidakpercayaan terhadap para Dewa dalam pikiran para pemuda Ionia. Dia tak mau, tak mau menganggap itu sebuah kesalahan lewat pertukaran uang dengan nyawa.


Hidup yang tak terperiksa secara filosofis adalah hidup yang tak layak dijalani,” (Socrates).


Seorang pahlawan kesepian yang namanya tak pernah tercatat dalam buku sejarah, Ibrahim Datuk Tan Malaka. Lelaki monumental itu punya rahang yang kuat dan bentuk tengkorak khas daerah Sumatra, tempat kelahirannya. Seorang mahasiswa Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang memerkenalkan Tan Malaka pada si pemuda. Dan ternyata, kabar yang sama diterima, Tan Malaka mati ditembak di tepi sungai Brantas, dibunuh manusia sebangsanya, bangsa yang kemerdekaannya dia perjuangkan bertahun-tahun lamanya.


Dia memerjuangkan (ke)Merdeka(an) 100% untuk Menuju Republik Indonesia, menolak jika negaranya diperintah secara legal oleh pemerintah Belanda. Beliau percaya bahwa aksi massa (Massa Actie) adalah jalan terjal yang harus ditempuh masyarakat untuk merebut kekuasaan dan cara berpikir MAterialise-DIalektika-LOGika adalah sarana untuk mencapai kebebasan tersebut.


Usut punya usut, pikiran dan tindakan Tan Malaka tak disukai banyak orang. Label Trotskyis diberikan rezim Soviet di bawah Stalin yang menolak gagasannya untuk bekerjasama dengan gerakan Pan-Islamisme yang sedang berkembang. Di dalam negeri, Tan Malaka menolak gagasan partainya, Partai Komunis Indonesia, untuk melakukan pemberontakan 1926. Masyarakat belum siap sehingga yang akan terjadi hanyalah kekacauan (putsch), ramalannya terbukti benar.


Tan Malaka, tak seperti dwitunggal Indonesia Soekarno-Hatta, konsisten pada prinsip non-kooperasi. Tak ada kompromi dengan penjajah yang menancapkan kukunya di bumi Indonesia. Tak ada kompromi pula dengan kapitalisme yang dengan kejam mendidik manusia menghisap darah rakyat sebangsanya, lebih lagi darah sesama umat manusia.


Friedrich Nietzche, seorang pemikir Jerman, pada awalnya banyak memengaruhi Tan Malaka. Seorang pastor bernama Setyo Wibowo yang pertama memerkenalkan filsuf berkumis lebat itu dengan si pemuda. Selanjutnya, lewat St. Sunardi. Dan, bersabdalah Nietzche lewat mulut Zarathustra.


Aku adalah dinamit. Membuat manusia gelisah itulah tugasku,” Nietzche memerkenalkan diri kepada si pemuda. Wajah yang dingin, tatapan yang tajam serta kumis lebat menggantung di atas bibir, sungguh bukan rupa yang ramah.


”Mari, kita arungi samudra luas tanpa satu pulaupun untuk berlabuh. Kau harus punya rahang dan lambung yang kuat untuk mendengar cerita-ceritaku,” entah hawa aneh apa yang merasuki si pemuda sehingga mau mengamini ajakan Nietzche.


Requiem Aeternam Deo (Semoga Tuhan bersitirahat dalam kedamaian abadi), Gott ist Tot (Tuhan telah mati), kamu, kita semua telah membunuhnya,” kalimat itu keluar dari bibir Zarathustra, menyirap si pemuda.


”Yang indah bersua dengan bisikan, ia menyelinap ke jiwa-jiwa yang paling waspada”

(Nietzche dalam Sabda Zarathustra)


Malam ini, tetirah dikenang. Saya menulis pengalaman si pemuda persis seratus persen seperti yang diceritakannya pada saya. Kadang, saya mencemoohnya, menghina kelakuan busuknya mengorupsi filsafat. Ya, lakonnya memang begitu, menggunakan filsafat tidak untuk mencari makna hidup. Demi popularitas, demi penghargaan diri, demi kesenangan pribadi.

Terakhir kami bicara, dia banyak berubah, meski kadang masih berlaku korup terhadap filsafat. Tapi, dia akui sedang coba menghilangkannya. ”Saya ingin meghapuskan filsafat, saya ingin mewujudkannya dalam kehidupan,” bibirnya bergetar, kepalanya menunduk meningat betapa rendah kelakuannya kemarin-kemarin.


”Ya, saya ingin mewujudkannya bersamamu,” sekali ini saja dia meminta, terlalu berat buat saya.


Jika kita memilih posisi dalam hidup dimana kita bisa bekerja untuk seluruh umat manusia tak ada beban yang bisa menghalangi kita... selanjutnya kita akan merasakan kebahagiaan yang tak sedikit, tak kecil, dan tidak hanya untuk diri sendiri, kebahagiaan kita adalah kebahagiaan bersama jutaan orang. Perbuatan kita akan hidup dalam ketenangan, namun terus-menerus bekerja, dan di atas abu jasad kita akan menitik air mata orang-orang mulia” (Marx, On The Choice of Profesion).


Adalah Marx yang membuat si pemuda kembali pada nilai-nilai agama yang sejati, nilai-nilai kemanusiaan.


Jatinangor, 9-12 Desember 2007


Cintaku, Cinta Konser

Jakarta memang neraka, saya benar-benar merasakannya kali ini. Hari itu, minggu, lazimnya orang-orang ibukota pelesir ke Puncak Bogor atau Bandung sana, dan saya yang besar di Bogor lalu kuliah di Bandung bisa melengang mulus di jalanan Jakarta tanpa terganggu oleh kemacetan yang sudah rutin disini ketika hari kerja. Kenyataannya tidak begitu.


Mobil meninggalkan daerah Pancoran menyusuri jalan tidak seberapa lebar, menuju ke daerah mana saya lupa. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul tiga dan matahari masih galak seperti jam 12 tidak pernah beranjak sedetikpun. Saya membuka kaus tipis yang apek karena dicumbui keringat.


Bertelanjang dada saya mengiringi Candil bersenandung, “kapan ku punya pacar, kapan ku punya pacar,” dan drakk. Benjolan aspal membuat bergetar pemutar compact disc Pioneer abu-abu 12 cd yang dipasang di bawah laci mobil sebelah kiri. Lagu berhenti diganti nada timur tengah mengalun tanda pesan singkat masuk ke Siemens saya.


Haduh knp dbliiin?yawda nanti gw gantiin ya say..jgn marah ya say.”


gw g btuh uang lu. Jrang2 gw maen k Jkt,qta kan udh lma g ktemu.Tpi,klw mang g bsa g ush gnti duitny,gw g smiskin itu,non..hehe” tombol send ditekan.


Faktanya, saya belum punya tiket. Taktik saja, supaya teman saya itu mau menemani saya nonton acara musik Jazz yang rutin diselenggarakan setahun sekali oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya penggila reggae dan tak begitu menikmati Jazz. Tapi, saya penikmat musik,\ apapun genrenya. Di Indonesia pagelaran Jazz yang tiketnya dihargai puluhan ribu cuma ada sekali setahun, Jazz Goes to Campus. Itu yang membuat saya mau jauh-jauh ke Jakarta cuma untuk nonton sebuah konser musik.


Langit sudah ramah. Tidak panas tidak pula hujan. Mobil bergerak lagi, tanpa nyala air conditioner kali ini, karena jarum penanda bensin sudah sampai di titik E. Empty.


Pokoknya ente harus lakuin itu. Ini kesempatan jarang. Ke Bogor pun ane anter. Kalau ente sampai ga lakuin, ganti nih duit bensin,” gurau teman saya mengancam sehabis mengeluarkan dua lembar ratus ribuan di sebuah pom bensin yang letaknya dekat dengan bilangan Ps. Minggu. Ya, saya ke Jakarta menumpang. Betul-betul baik kawan saya itu. Sudah ditumpangi, mau mengantar ke Bogor pula.


Al, gw udh di jln nech. Janji yah gw plgin jgn mlm2.awas loh..


nyawa gw taruhannya,” balas saya


Ba’da Maghrib. Untuk menemukan tempat parkir teman teman saya sampai harus memutar mobil tiga kali, sekali keluar UI lalu masuk lagi. Bahu jalan sudah penuh dan kami menemukan sebuah tempat lowong di boulevard, empat ratus meter dari gerbang, sekitar satu kilometer dari Fakultas Ekonomi.


Al beli ponstan”, “Al beli aqua jg.cptn udah skt gi9i bech...oia permen jg soalnya gw takut minum obat sndrian.he2 maap ia kebnykn ia he2


Saya masuk ke alfamart, beli sebungkus Djarum Super, sebotol aqua, dan sebotol nuGrentea. “Ada ponstan, mbak?” saya harap-harap cemas. Nihil. Lucu juga ada alfamart di dalam kampus, di Unpad ini tidak (mungkin juga belum) terjadi. Komersialisasi Kampus belum separah Jakarta dimana setiap hal diukur dengan lembar-lembar uang. Bagus, berarti pedagang-pedagang kecil itu masih bisa tetap hidup.


Seorang wanita dengan kaus oblong dan celana jeans berdiri di atas meja yang terletak di tengah-tengah area ticket box. “Tiket sold out,” ulangnya beberapa kali. Gimana ya, kacau ini, ketahuan sudah bohong saya. Tidak ada tiket dan ponstan, saya harus ngomong apa nanti.


Sekitar sejam menunggu sambil duduk-duduk dan foto-foto, akhirnya kesepakatan dicapai. Tiket Cuma ada satu. Teman lelaki saya menggunakan tiket bekas, saya pakai tiket asli, dan teman saya yang perempuan sudah punya cap di lengannya hasil dari menempelkan cap yang masih basah dari adik kelasnya. Strategi berhasil.


Kami bertiga berpisah di dalam. Teman lelaki saya langsung menuju main stage bersama dua orang lainnya, sementara saya dan teman perempuan saya berdua saja. Jitu.


JGTC dua tahun lalu tidak seramai kali ini. Sebuah neon box besar bertuliskan Three Decades of Jazz Goes to Campus; Celebration of Inspiration terpampang di dekat bunderan FE yang ramai oleh pengunjung yang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah bunderan, lampu kelap-kelip diuntai seperti membuat rangka payung, mengelilingi sebuah tiang tempat lampu warna-warni berbentuk huruf J-G-T-C dipasang vertikal. Pawang hujan tampaknya sukses karena hujan tak menambah semarak acara hingga penampil terakhir menyelesaikan lagunya di pangung.


Laper ni, cari makan dulu ya,” perut teman saya merajuk rupanya. Sepuluh meter dari bunderan, stand makanan berjejer. “Jangan pancake, nggak kenyang. Gw laper banget nih,” silahkan saja nona, malam ini semua mau Anda saya turuti.


Gw gak makan, kopi aja,” ujar saya sambil memesan segelas nesface panas yang dijual di sebelah stand tempat teman saya memesan. “Gua mau milo kaleng,” pinta teman saya sambil memesan makanan di stand samping. Saya keluarkan selembar dua puluh ribuan dari saku kanan dan membayarnya. Lima puluh ribuan terakhir saya ditepisnya, dia yang membayar untuk dua porsi makanan yang terlalu mahal dihargai Rp.26 ribu.


Umur berapa lu mau nikah?” teman saya membuka pembicaraan sambil menyuap sendok kesekian melewati bibir merah jambunya. Saya keget namun mencoba tersenyum. Seperti berkah yang datangnya terlalu cepat, berkah yang jadi bencana.


Hmmm, nggak tau. Gw gak suka menargetkan hidup. Selama gw senang hari ini, hari besok gak dipikirin. Cukup. Gw lebih senang begini, hidup bebas dari target,” sebisa mungkin saya cari kalimat yang pas sambil pikiran saya menerka apa yang ada di balik pertanyaan tersebut. Suara penampil dari main stage terdengar, “lagu berikutnya tentang seorang pria yang setia dengan janjinya”.


Aduh, dia tanya soal hubungan. Tanya saya sejarah pers Indonesia, kita bisa semalaman membicarakannya, tapi jangan soal hubungan karena saya belum punya jawabannya. Saya tak berminat membahasnya denganmu, nona. Dan kamu, pasti tak berminat membahas beberapa kesalahan Pramoedya mengurai sejarah Tirto Adhisoerjo dalam tetraloginya. Yah, kita memang berbeda. Kupikir, aku yang selalu mencoba menyesuaikan diri denganmu meski ketakutan itu terus menetak. Kenapa kau gerus keindahan malam ini dengan pertanyaan macam itu.


Sudahlah, bung, jangan dibiarkan terus gelisah itu berkecamuk, nikmati saja malam ini. Huff, untungnya dia tak tahu probbing dan tak memberondong saya dengan dengan pertanyaan lanjutan.


Setengah sebelas malam, mobil menyusuri aspal basah tol Jagorawi yang terus didera hujan. Setengah jam berikutnya mobil menyusuri jalan-jalan kecil di sebuah kompleks perumahan elite Bogor. Saya masih hapal jalan tikus disini meski sudah setahun lebih tak melewatinya.


Kompleks elite nih. Orang-orang kaya Bogor tinggal disini. Cuma ada tiga kompleks perumahan elit di tengah kota Bogor: ini, daerah Dadali, sama Taman Kencana. Ki Gendeng Pamungkas tinggal di daerah sini,” tukas saya pada teman lelaki yang sedang memegang kemudi.


Apaan sih lu. Biasa aja kali, lu selalu gitu,al. Pehitungan sama gw,” teman perempuan saya yang duduk di jok belakang langsung emosi dibilang tinggal di kompleks perumahan elite. Dia memukul-mukul tubuh dan kepala saya yang duduk persis di depannya.


Buat nelpon Dewi bisa, ko gw nggak? Sakit hati gw,” saya tak bisa melihat ekspresinya ketika bicara seperti itu. Saya tak tahu teman perempuan saya itu serius atau tidak.


Saya ingin mejawabnya ketika kita berpisah di pagar rumahmu, tapi tak tahu harus dengan kalimat seperti apa. Pun bapak-bapak itu, yang nongkrong-nongkrong di depan pagar rumahmu, kehadirannya betul-betul menganggu saya.


“Gimana nyong?” teman lelaki saya rupanya sudah tak sabar mendengar kalimat yang saya katakan waktu mengantar teman perempuan saya masuk ke rumah.


“Dia nanya gw balik ke Bogor ngak Minggu depan, pengen ngajak jalan lagi. Gw bilang ‘iya’. Ketemu lagi minggu depan. Masih memesona dia,” jawab saya seadanya.


U make a dark nite so wonderful, thx..hehe. Jgn mrah yak, tdi gw boong udh pnya tiket spaya lu mw dtg,” saya kirim pesan singkat sebagai tanda terima kasih kepada perempuan itu.


Saya khusyuk di depan komputer. Main Football Manager 2008 sambil mendengarkan mp3 dari Winamp. Cinta Sudah Lewat-nya Kahitna dapat bagian bersenandung beberapa saat setelah Kencan Pertama dan Jikalau-nya Naif. Dia dan janji itu masih membayang meski pertemuan itu sudah lewat seminggu. Saya tak menepati janji yang diucap seminggu lalu.


Berikan aku senyuman satu malam saja, jangan kau tawarkan sebuah hubungan, nona,” saya ingin jujur padanya. Kalimat itu ingin saya bisikkan ke telinganya yang berpahat giwang bundar biru muda malam itu. Andai, andai saja malam itu kau mencecar terus, kukeluarkan kalimat pamungkas itu.


Jatinangor, 4 Desember 2007

Refleksi lebaran: Pepesan Kosong

Terang matari di langit berganti gemerlap kembang api. Awalnya mirip suara sirene, disusul bunyi serupa daun kering terbakar ketika garis api berhambur jadi gurat warna merah, emas, dan biru membentuk lingkaran indah. Di bawah, Kraton Yogya menua termanggu. Alun-alun bingar melebihi siang hari.

Jalan raya yang mengelilingi alun-alun sesak kendaraan dan parade. Berjejer para penampil bergantian menghibur. Barisan depan selalu membawa spanduk panjang bertuliskan daerah asal. Kauman, Sayidan, dan banyak sesudahnya. Penggebuk drum dan paduan suara dengan bendera warna-warni di barisan kedua, kompak bershalawat keras. "Lebih sepi dari tahu kemaren," pak Polisi menimpali pertanyaan saya. Sebagai penutup pemuda membawa rangka masjid atau Al-Quran sebesar badan manusia. Tak kurang meriah ornamen itu dilengkapi dengan cahaya lampu. Generator dibawa serta untuk sumber tenaga. Sungguh besar biaya keluar untuk tetek-bengek karnaval.

Handphone dibanjiri pesan singkat. Ah, semuanya serupa walau tak sama. Seperti ini setiap tahun, maaf, maaf, dan maaf. Pun begitu harus dibalas, tak enak rasanya kalau tidak. Tetap saja pertanyaan timbul, apakah harus meminta maaf kalau bertahun sudah tak bertemu?? Wajahmu saja saya sudah lupa.

Beringsut pulang setelah kamera mati dengan hati menggerundel karena kelupaan membawa baterai cadangan. Besok Lebaran, harus tidur segera, supaya esok ibu tak marah-marah membangunkan saya.

Dari kejauhan takbir sudah mulai terdengar lamat. Baru pukul setengah enam. Pesan singkat terus-terusan masuk. Kesal hati mendapati sms aneh. Masak dikirimi pesan dalam bahasa Prancis, satu kalimatpun saya tak bisa mengartikan. Apa-apaan ini manusia, dua orang pula, dengan pesan yang sama persis. Dipikirnya keren pake bahasa asing, mana sampai apa yang kau maksud?? Sakit jiwa, mereka! Tapi tetap saya balas, tak enak. Kacau begitupun tetap kolega.

Selanjutnya seperti biasa. Beli kembang untuk makam kakek, sholat Ied, ziarah, dan acara sungkeman. Ditutup dengan bagi-bagi THR. Setelah rangkaian acara selesai, saya tinggal tidur keramaian tamu yang datang berkunjung.

Pesan-pesan singkat yang baru didapati ketika bangun tidur. Bahasa Inggris masih saya maklumi, begitupun yang sok berpantun. Pusing benar mereka merangkai kalimat agar indah dibaca. Sekali setahun ini, lebaran saja.

Malam mulai lagi. Tertatih-tatih saya mendaras Jejak Langkah Pram. Bising kembang api dan parade terdengar dari kejauhan, sungguh menganggu konsentrasi. Pesan masuk lagi, senang hati kali ini. Ada juga yang mulai merasakan keanehan ritual menahun Takbiran dan Lebaran. Berbalas terus pembicaraan mengenai kenaehan di sekitar Idul Fitri. Saya akhiri karena teman tersebut mau lebaran nanti pagi, dan dia harus tidur karena sudah hampir jam tiga. "Tidurlah, Jangan lupa berdoa lebaran tahun ini dapat makna baru. Bukan sekedar pepesan kosong ritual tahunan," tombol send langsung dipencet.

"Setelah qt puas makan, apa kabar ya jutaan manusia yg mungkin hingga saat ini ksulitan makan?Dr td sy mnrima banyak sms minta maaf, tp knp qt msh bs mkn tnp mrasa bersalah?" Hufff, satu lagi pesan singkat menggugat, dari perempuan berjilbab pula.

Yogya, lebaran ke-2

Sekarang, Buat Bapak

Pembicaraan biasanya tak jauh-jauh soal keuangan. Uang bulanan habis sebelum waktunya, atau fotokopi dan tugas ini-itu butuh dana. Hubungan saya dan bapak memang tak terlalu baik. Setidaknya jika seringnya komunikasi dijadikan ukuran. Mungkin gengsi seorang lelaki yang membuat saya mencoba menghindari pembicaraan dengannya. Penyebab lainnya, bapak orang yang terlalu serius dan kaku menghadapi hidup. Begitupun kalau beliau bicara, penuh tetirah mengenai cara hidup sukses. Beda dengan saya yang lebih sering bermain-main dengan pilihan dan tak begitu suka dengan ukuran ‘sukses’ bapak.

Tapi, kemarin dulu tulisan untuk ibu sudah dibuat. Diposting di blog baru beberapa bulan kemudian karena isinya terlalu sentiimentil. Rasanya tak adil kalau bapak tak ditulis juga.

Banyak orang yang sudah kenal bapak sejak masa muda, bilang kami berdua punya muka serupa. Saya tak pernah percaya sampai suatu ketika membuktikannya sendiri. Sebuah ijazah SMA dengan pas foto hitam-putih di pojok kanan bawah, diperlihatkan pada saya. Ternyata betul yang dikata orang.

Wajah kami memang mirip, tidak begitu dengan sifat dan perilaku. Bapak anak baik yang jarang, atau bahkan tak pernah, berbuat onar. Tak pernah saya dengar cerita macam begitu, dari mulutnya atau dari mulut orang lain. Kalau orang cerita, bapak jadi sosok anak muda yang ideal di mata mereka. Dia anti kenakalan remaja.

Masa mudanya dihabiskan dengan belajar dan bekerja. Dua itu saja. Hidup tanpa ayah membuatnya jadi seorang remaja pekerja keras. Mulai bengkel motor sampai dagang asongan. Sampai sekarang berbagai keahlian masa muda itu, beliau belum lupa. Mengecat rumah, memerbaiki instalasi listrik, mengencangkan rantai motor yang kendur, dikerjakan sendiri kalau ada waktu luang. Kalau saya sedang di rumah, diajarkannya keahlian-keahlian itu supaya pekerjaan bisa dilimpahkan.

Bapak tak begitu pandai. Nilai ijazah SMA-nya tak menonjol. Isinya Cuma angka enam dan tujuh. Jurusan Kimia Universitas Gajah Mada dipilihnya untuk melanjutkan studi. Lulus delapan tahun!

Beliau lalu cari kerja. Impiannya: TELKOM. Teman seperjuangannya diterima, dia tidak. Melanglangbuana sampai terdampar di sebuah perusahaan

Korea

. Gajinya boleh dibilang tinggi untuk ukuran tahun 80-an. Dia memilih keluar kemudian. Bukan lantaran tak puas dengan gaji, tapi karena emoh jadi kacung orang asing. Sempat ditawar mengajar kimia di SMA Al-Azhar pusat. Dia tolak lagi. “Ngajar anak SMA ngak berkembang ilmunya,” begitu kilahnya.

Pemberhentian terakhir di sebuah akademi kimia yang berlindung di bawah Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Letaknya di Bogor. Bapak jadi dosen, sampai sekarang dengan upah tak seberapa besar. Konon hanya berbeda beberapa ratus ribu saja dengan saudara-saudara saya yang jadi guru SD di Jakarta. Saya tak pernah mengeceknya meskipun memerlihatkan slip gaji itu kebiasaan di keluarga saya. Dulu, buat saya pilihan-pilihan yang bapak buat mengenai pekerjaan terdengar aneh. Sekarang saya maklum. Dalam kasus ini, Bapak termasuk orang yang mengajari saya bersikap.

Universitas

Indonesia

, almameter Bapak yang kedua. Mendalami Kimia Anorganik (sampai sekarang saya tak tahu betul apa yang dipelajarinya). Saya sudah lahir dan baru berumur beberapa tahun ketika itu. Walau sudah kerja, nampaknya keuangan keluarga banyak dibebani dengan studi Bapak. “Dosen pembimbing sampai kasih uang buat ongkos pulang sehabis sidang tesis di Salemba,” ratapnya.

Umur Bapak sekarang sudah kepala

lima

. Tiga anaknya masih kuliah dan satu masih SD, makanya beliau masih harus bekerja keras dari satu kampus ke kampus lain. Hari Minggu pun tak luput dari mengajar. Motor bebek tahun 96 jadi teman setianya.

Waktu luang dia pakai main Badminton. Seminggu bisa sampai tiga kali. Kalau sore hari ada di rumah, biasanya sibuk merawat tanaman. Dia suka bungga anggrek. Anggrek pertamanya mati di tangan saya—karena tak dirawat meskipun sudah dititipkan—ketika beliau pergi Haji.

Bapak punya harapan besar untuk anak lelaki pertamanya, saya. Dia tampak girang sore itu, saya bilang “mau jadi Dosen, seperti Bapak”.

Cikeruh,

26 September 2007

Perjalanan: Sebuah Pengakuan

Zaman bertukar musim berganti, manusia pun berubah. Betul memang, tak ada yang hadir tanpa penyebab. “Ting” seperti sulap itu omong kosong saja.

Masa lalu saya terselip dalam lembaran-lembaran binder tua. Catatan ini, secara lengkap ataupun secuil saja, baru dua orang yang dipersilahkan membacanya, Nona Feurbach dan si Pengeluh. Nona Feurbach mendorong saya untuk mempublikasikannya. “Usaha untuk menghargai proses dan dialektika,” begitu ujarnya. Tapi  tetap saja tak ditulis ulang semuanya. Alasannya, antara malas dan malu.

Sedikit catatan dari masa lalu. Pengharapan dan pertanyaan tentang masa depan.

?????

I.       Masa SMA

Hidup saat ini menjadi hanya seperti sampah. Terlalu banyak kesenjangan, diskriminasi, penindasan, dan kecurangan berkedok malaikat. Dunia menjadi terlalu sempit untuk perubahan. Tak ada kesempatan, yang ada cuma uang dan kekuasaan. Orang-orang kaya terlalu sombong untuk mau berbagi.

Terlalu lama dan mustahil untuk kaum tertindas menunggu campur tangan negara. Politik hanyalah politik. Hanya politik dengan omong kosong di dalamnya yang benar-benar menjadi sebuah politik. Dalam siding-sidang negara hanya ada BULLSHIT!!!! Taka ada jalan untuk rakyat kecil selain bergerak sendiri, do it yourself. Bangkit dan bersatu demi masa depan yang lebih baik

Bogor

, 9 Desember 2003

22.03

sedih juga lihat berita Alm. Ersa Siregar. Orang yang punya idealisme dan dedikasi tinggi buat pekerjaannya. Salut buat beliau. Dia bekerja tak hanya dalam lingkup Jurnalistik, tapi juga respek sama penderitaan di daerah konflik. Bisa ngak gw kaya beliau? Gw rasa anak-anaknya bakalan bangga punya ayah sehebat dia yang peduli banget sama anak-anaknya, sampai sampai nyempetin diri nelpon buat nanya SPMB (walau dari daerah konflik, lagi ditahan GAM). Buat gw hal-hal seperti itu punya influence besar, karena gw juga pengen jadi wartawan.

Yang jelas, gak peduli nanti jadi apa, yang gw harus ambil sisi positif beliau: dedikasi tanpa kenal rasa takut. Terakhir gw Cuma bisa berdoa mudah-mudahan Allah menempatkan Alm Ersa Siregar dalam golongan orang-orang yang Ia cintai…amin

Malem Rebo, 30 Des 2003

9.24 Waktu kamar

Hari dengan kemunduran semangat! Hidup semakin berat dan mulai tumbuh rasa frustasi. Banyak perjuangan yang berakhir sia-sia. Hasil yang gw terima sering jauh dari harapan. Mimpi terbentur kenyataan. Buat bangkit boleh dibilang susah karena cuma secuil semangat yang tersisa dalam dada!!

Lelah rasanya ngejalanin hidup yag monoton. Gw butuh perubahan; gw butuh menikmati hidup gw sendiri; gw bosen jadi beban orang lain. Tekanan-tekanan harus bisa gw jadiin semangat

GET UP STAND UP, STAND UP FOR YOUR LIFE

Senin,150304

20.10

Ga ada hal yang cukup penting dan ngeganggu, ordinary day. Hal-hal mulai bersahabat. Mungkin karena depresi mulai berkurang. Semangat baru tumbuh seiring usaha buat keluar dari keadaan yang ngak bersahabat.

Hari ini gw selesai baca buku Kromo Kiwo, Mereka yang Tak Pernah Menyerah, yang gw beli kemaren. Hal-hal yang bisa gw tangkep:

  1. ….
  2. isinya keren karena ceritanya tentang eks-Tapol dan seputar basis PKI di Yogya.
  3. pledoi orang-orang yang pernah jadi korban politik Orde Baru
  4. … (bagian ini agak berbau SARA, jadi tidak dicantumkan…hehe)
  5. ngajarin bahwa ada resiko yang harus kita tanggung terhadap jalan dan pilihan hidup yang kita ambil.

Tapi satu yang masih jadi pertanyaan mendasar, walau gw udah baca beberapa buku pro-kontra PKI: “sebenernya PKI itu bersalah atau tidak (mungkin yang saya maksud waktu itu dalam konteks G30S).

Bisingnya hidup coba kurenungi dalam hening. Menyedihkannya diriku coba kutulis dalam kata yang jauh dari dusta. Hanya lembaran-lembaran yang mungkin 10 tahun lagi aku lupakan yang tahu jelas diriku saat ini. Allah tahu aku coba berubah, Allah pun tahu diriku lebih dari diriku sendiri. Kuharap besok lembar-lembar ini masih bisa jadi koreksi bagi diriku; bercerita tentang sukses, bukan lagi kegalauan. Kuharap esok tangan ini bisa menghasilkan hal-hal yang berguna. Amin.

Rabu, 170304

21.26-21.59

II. Legegnya (Sombong) Mahasiswa Semester Awal

Aku temukan bahwa aku menunggu untuk disingkap. Untuk ditelanjangi oleh waktu segala kebohonganku. Untuk diotopsi kepalsuan yang merasuk sampai ke tulang-tulangku…

Aku temukan bahwa aku terasing. Keterasingan yang membuatku berdiri di atas pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang eksistensiku. Keterasingan yang menghadirkan pertanyaan akan masa datang di depan wajahku. Secuil pun aku belum bisa bayangkan seperti apa…

19 ke depan tentunya akan berbeda. Aku harap aku lebih siap ditelanjangi. Lebih bisa menghargai keterpisahan melalui sebuah penyatuan. Lebih mampu menjawab 19 lain yang berdiri di depan wajahku…

Aku kini 19 langkah mendekati penyatuan…mudah-mudahan.

Ps: semakin hari aku semakin tak menemukan makna esensial Hari Ulang Tahun. Buatku ini hanyalah satu keanehan masyarakat…

14 Juli 2005

perihal sesat atau bukan, menyesatkan atau tidak, saya artikan itu sebagai kuasa kita untuk menulis sejarah…ada hal yang kadangkala perlu kita lebihkan, kurangkan, manipulasi, semuanya demi kenyamanan, kelangsungan hidup kita. Walaupun Tuhan memanifestasikan dirinya dalam ruh, jiwa, atau lembaran-lembaran suci, selalu ada usaha untuk memertanyakannya. Tapi, apakah suatu sistem kepercayaan (Agama misalnya) begitu berpengaruh terhadap hubungan manusia dengan Tuhan? Apa jiwa, ruh, rasio begitu liar dan tak terarah dan membutuhkan suatu pagar agar ia tetap berada dalam tempat yang semestinya…

Bogor

, 19 Juli 2005

Dinihari

Ada

seorang kawan yang mengirim pesan singkat ke HP saya. Isinya secara garis besar adalah bahwa sosialisme bukan sebuah mimpi. Ia juga menulis bukan tak banyak orang miskin, dan sosialisme bukan tidak ada arti…

Saya kembali bertanya tentang sosialisme. Ketakpercayaan terhadap bentuk ideologi apapun saat ini, membuat saya ingin menyumpahi bentuk apapun ideologi. Bukankah ideologi hanyalah class-idea dari ruling class? Toh selalu muncul sempalan-sempalan yang mewarnai sejarah ideologi – bukti bahwa ideologi cuma berhala yang disembah dan bukan hal yang absolut. Bukankah kekuatan ideologi terletak pada struktur, bukan kemasukakalannya. Itu adalah bukti bahwa ideologi menyuntik kesadaran kita untuk ikut dalam struktur dan meminggirkan keunikan kita demi kepentingan ‘bersama’ atau kepentingan ruling-class yang termaktub dalam ideologi

Ya, mungkin ini karena kurang wawasanku dibanding temanku tadi…

010805,

Bogor

,

…Mungkin saja ketakutan, kecemasan, lahir dari ketidapasrahan saya pada tindakan. Belum sempurnya kesadaran pada tahap religius seperti yang dipahami Kierkegaard.

Atau mungkin saya terlalu egois. Mencampakkan pilihan-pilihan yang diberikan hidup. Dan karena saya tervonis bebas, saya lebih memilih untuk tenggelam dalam masalah ini. Saya tenggelam dan berlarut-larut…

25 Agustus 05

Waktu Zuhur Jatinangor

…benar bila kita berjalan dengan kaki, bukan otak. Tapi perasaan kadang membuat kita ingin meminggirkan logika sejenak. Mengikuti kemana kaki ingin melangkah, tanpa ingin tahu tujuannya.

Jatinangor,

9 September 2005

Menjelang Ashar

?????

Nah, saya temukan juga secarik kertas yang agak kusut, mungkin karena terlipat-lipat. Isinya puisi, sungguh surealis!

Sunset 25 Januari

Laut menunggu ombak bergulir

berderu gaungnya dalam hatiku

berseru, aku malu

hanya bisa diam, lagi

ombak kini tinggi menggapai menguasai diriku

habis aku lebur, hilang

kini kamu dan dirimu menutup dibalik awan

aku pergi dan kau disitu tersenyum, aku tahu

seperti senja, hanya menanti

dan diam, lagi

Yogyakarta

, 25 Januari 2005

Halangi sunset yang kunanti

Pie to dab?! (bagaimana sih kamu?!—terj)

Ditulis ulang

27 September 2007

Suatu Malam Dari Jalanan Jogja

Masih dalam mood kemana angin berhembus malam kemarin. Sedikit uang di dompet dan sepeda gunung kepunyaan kakak—dia pulang-pergi kampus bersepeda—teronggok manis di teras rumah. Saya putuskan menelusuri jalan besar Yogya dengan tas punggung di belakang, berselimutkan jaket kebesaran berwarna hitam pudar dan celana jeans selutut. Tanpa tujuan pasti.

Sepeda malam sudah dijalani beberapa tahun belakangan. Sebenaranya tidak melulu malam. Ada masa seperti liburan panjang dan idul fitri, dimana siang hari jalanan begitu padat dan keramaian lalu-lintas harus diakali dengan menggunakan sepeda onthel tua warisan kakek. Hal yang menyulitkan karena sepeda ini menggunakan rem torpedo, bukan rem tangan. Jadi, sekarang pilihan jatuh pada sepeda gunung yang lebih aman dan tak menyulitkan.

Tak punya Surat Izin Mengemudi jadi alasan lain bersepeda. SIM saya hilang bersama dompet dan kartu identitas lainnya. Untungnya aturan harus membawa STNK dan SIM bagi pengguna sepeda di Yogya sudah berakhir puluhan tahun lalu. Sekarang, sepeda anti tilang dan anti kemacetan.

Cukup sudah penjelasannya, sekarang kembali ke sepeda malam. Sepeda mulai dikayuh. Roda berputar melabas gang kecil sebelum menuju jalanan besar. Citt, rem berderit ditekan. Tengok kiri-kanan. Ohh, sepi, baguslah.

Mulai masuk ke jalanan besar. Pertama melewati jembatan besar di atas kali code. Ketika kecil dulu saya senang mencari udang atau ikan kecil di balik bebatuan sungai ini. Airnya jernih dan tidak dalam, kecuali di musim penghujan dimana lumpur terbawa arus besar. Pinggiran sungai terbebas dari sampah meskipun rumah-rumah penduduk didirikan di sana. Mereka punya sertifikat sehingga bebas gusuran, tidak seperti bantaran Ciliwung.

Jembatan ini termasuk baru. Ketika ayah berkuliah dulu belum berdiri. Untuk mencapai kampus Universitas Gadjah Mada, beliau harus memutar dulu lewat tugu. Sekarang kakak dan adik perempuan saya yang satu almameter dengan ayah melewati jembatan ini menggunakan bis atau sepeda untuk mencapai kampus.

Menanjak beberapa puluh meter sepeda dikayuh ke arah timur memasuki gang kecil. Memotong jalan. Tembus di jalan raya C. Simanjuntak. Sempit sekali jalanan ini untuk ukuran keramaian yang mewarnai kesehariannya. Pun banyak mobil parkir di pinggiran menambah sesak lalu lintas. Sebagai catatan saya pernah dua kali celaka di jalan ini. Pertama diserempet sampai jatuh dari motor dan lecet-lecet dan yang terakhir tak sampai membuat saya jatuh, hanya setang motor agak bengkok saja.

Sampai pertigaan, berbelok ke kiri melewati jajaran pedagang buku daerah Terban. Ada dua puluh lebih kios disana. Daerah ini menjual textbook kuliah bajakan. Konon mendapat restu Sultan pula. Di kota dimana buku diskon bertebaran, pedagang Terban termasuk yang menjual buku paling murah selain shoping book center di pojok jalan Malioboro. Adik saya membeli kamus Inggris-Indonesia Hassan E Shadily lima belas ribu perak saja. Anda boleh bandingkan dengan harga di Gramedia.

Kalau mampir sempatkanlah waktu agak banyak agar teliti memilih buku. Dan Anda akan menemukan buku yang sudah agak sulit didapat. Saya berhasil menemukan Serbia Calling dan Mao Zedong; Manusia bukan Nabi, ramadhan dua tahun lalu. Dua buku yang sudah lama dicari-cari.

Kembali ke perjalanan. Di pertigaan kampus UII sepeda berbelok ke arah selatan menuju SMAN 3 Yogya. Padmanaba nama kerennya. SMA terbaik di kota pelajar. Sebenarnya saya berniat mengunjungi sebuah warnet di pojok perempatan bangjo (abang-ijo, merah-hijau, sebutan orang Yogya untuk traffic light). Tapi lampu berwarna hijau dan sepeda saya pacu saja menerabas. Benar-benar kemana angin berhembus.

Beberapa banggunan saya lewati. TB Gramedia, Gedung Kompas, dan kantor Televisi Lokal JogvaTV. Sepeda saya lambatkan untuk menengok spanduk agenda di depan gedung Kompas. Sebuah perpustakaan milik Dorothea Rosa terjepit di tengah-tengah. Perpustakaan murah. Untuk menjadi anggota cukup bayar sepuluh ribu dan iuran bulanannya lima ribu saja. Bebas pinjam buku tanpa bayar lagi dan jangka terlama peminjaman adalah tiga puluh hari tanpa memertimbangkan ketebalan halaman. Dulu, ketika masa bimbel menuju SPMB saya jadi member dari sering main kesana.

Perpustakaan ini juga menjual buku. Untuk salah satu penerbit diskonnya mencapai tiga puluh lima persen. Perjumpaan saya dengan Menolak Tunduknya FX Rudi Gunawan, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan Wiji Thukul berawal disini.

Beberapa ratus meter di depan ada sebuah gelanggang olah raga. Temboknya yang kukuh penuh dihias gambar-gambar grafis. Menceritakan resahnya zaman. Dari anti narkoba sampai kegiatan olahraga betulan yang digantikan olahraga bohongan di Playstation.

Bukan disini saja Anda bisa melihat gambar-gambar grafis. Hampir di tiap sudut kota. Temanya macam-macam pula. Ada cinta, pergerakan, industri, sampai kehidupan. Favorit saya ada dua. Satu di gang parkiran samping mall Malioboro yang menggambarkan polusi industri—anggota greenperace dan earthworker harus melihatnya. Lainnya di perempatan dekat rumah saya yang menceritakan homogenisasi dan hidup yang semakin menjepit manusia. Beberapa manusia otaknya dihubungkan oleh sebuah kabel, diatasnya tertulis manis ”Oalah, Urip Soyo Angél—Oalah, Hidup Makin Susah”. Sampai sekarang keinginan saya memotret semua gambar grafis itu belum terpenuhi.

Sekarang mengayuh lagi. Kali ini dipercepat, balik arah ke tempat tadi menuju warnet. Sepeda meluncur elegan. Dengan flamboyan berhenti di parkiran motor. Tak ada parkir sepeda disini.

Berseluncur di dunia maya sekita dua jam. Waktu di Handphone menunjukkan angka dua belas lebih sedikit. Saya membayar lima ribu dan kebingungan mendapati sepeda sudah menghilang.

Dipindahkan ke tempat lain oleh tukang parkir rupanya. Tak elok bersanding dengan sepeda motor, mungkin. Ketika mengambil sekeping lima ratusan untuk uang parkir langsung ditolak mentah-mentah. ”Bawa aja mas,” sahut tukang parkir. Cih, penghinaan!!! Baiklah, tak apa.

Saya belum tahu tujuan selanjutnya. Tugu mungkin ramai. Langsung saja menuju kesana dan ternyata tak seramai yang dikira. Tugu ini terletak di sebuah perempatan besar. Utara menuju Kaliurang; selatan ke Malioboro, Kraton ,dan Parangtritis; Timur arah Prambanan dan Solo, Barat menuju kampus Muhammadiyah. Kalau di peta turis, ditunjukkan garis lurus yang menghubungkan kraton, tugu, dan kediaman mbah Maridjan di Gn. Merapi. Ada unsur mistisnya, konon. Anda percaya? Saya tidak.

Binggung mau kemana lagi, saya memustuskan pulang. Sebelumnya cari angkringan dulu untuk mengobati lapar dan dahaga. Gampang saja menemukannya. Angkringan favorit saya letaknya di bundaran UGM dan sebelah stasion tugu. Yang di UGM sudah tutup dan dekat stasion tugu sudah habis persediaan jam segini saking ramainya. Jadi saya pilih yang dekat rumah saja.

Angkringan dekat rumah, sekitar lima puluh meter rasanya. Ibu penjualnya sudah kenal baik, beberapa pengunjungnya juga. Ada yang kenal ayah saya malahan. Kalau sudah begitu rikuh jadinya. Tanya kabar ayah lalu cerita masa lalunya sebagai teman sepermainan. Ayah tidak suka berkelahi, penakut dan kalahan. Tapi jagoan bermain kelereng dan sering menang.

”Saya sering main ke Bogor, tapi mau mampir ke rumahmu malu,” ujar salah seorang teman ayah suatu malam. Memang begitu kebanyakan. Teman ayah beragam profesinya. Dari tukang parkir di pasar, penarik becak, dan semacamnya. Kalau ketemu disapa, ngobrol dan lalu memerkenalkan saya, anaknya.

Di angkringan saya kurang suka kalau ada mereka. Tak bisa merokok jadinya, tak bebas bercanda dengan teman pula. Nanti diceramahi pula, kalau bapaknya orang baik dan tak merokok masak anaknya begini?

Paling ramai kalau pengunjung mulai pasang togel. Ngala Berkah, disebutnya. Pemuda sampai orang tua ikut semua. Dari yang asal menebak sampai pake perhitungan segala. Bandar disini namanya mbah Halo, meninggal ramadhan kemarin. Kalau bertemu orang selalu menyapa dengan kata ’Halo’ jadi disebut begitu. Kemana-mana naik sepeda onthel. ”Nafasnya pendek, tapi umurnya panjang,” kelakar orang tentang dia.

Walau meraup untung besar tiap malam tapi mbah Halo tak kaya-kaya. Hasil penjualan togel dia pake lagi untuk judi. Runyam karena sering kalahnya. Sekarang togel sudah tak ada. Habis digerebeg dan saya merindukannya. Bukan rindu untuk masang, tapi suasananya yang cair.

Musim bertukar zaman berganti. Banyak yang berubah. Kehilangan dan perjumpaan. Namun, malam Jogja masih tetap nkmat untuk bersepeda. Setidaknya sampai kemarin malam. Berharap saja, pedagang buku Terban tak hancur digilas kapitalis besar; agkringan tak habis dilahap restoran yang mulai bertumbuh; dan grafis di tembok kota masih bersuara mengumandangkan gelisah masyarakat urban. Sampai jumpa. Mudah-mudahan kita berjodoh lagi lain waktu dan kisah tentang sudut-sudut Jogja tentu akan berbeda.

Jogja, 3 September 2007

Tentang (About, Not Against) Ibu

Waktu kunjungan sudah berakhir dua jam lalu. Lorong Rumah Sakit sepi. Tas berisi satu stel pakaian ditambah sebuah sajadah yang dilipat mengganjal leher saya. Tubuh rebah di atas sebuah kursi panjang berwarna coklat-hijau. Suara lirih merebut perhatian yang tadinya saya curahkan untuk membaca.

Suara tersebut berasal dari kamar sebelah. Tirai hijau menutupi pandangan saya ke sumber suara. Memejamkan mata, mencoba memperkuat pendengaran saya. Lantunan indah Mazmur, salah satu bagian dari Injil, mengalun. Saya ingat beberapa potongan favorit saya. Lirih namun pasti. Dari mulut seorang ibu Sabda paling nikmat untuk didengar. Setidaknya saya pernah merasakan itu.

Beberapa kali saya dirawat di Rumah Sakit. Hanya sekali saja ibu tak duduk dengan sabar mendampingi di samping ranjang tempat saya terbujur lemah—ketika itu ibu sedang berada di luar kota. Seringnya beliau memijit dan mengusap kaki atau tangan. Lebih sering lagi membaca Quran untuk menenangkan hatinya dan saya. “Istighfar, al,” kalimat tersebut berulang masuk ke telinga.

Pernah suatu kali saya mendapat kecelakaan. Tak parah karena tak sampai dirawat. Masih dalam keadaan sadar melihat langsung tindakan dokter menjahit luka sobek mengangga di beberapa bagian tubuh. Begitupun ketika selesai, masih sanggup berjalan tegap. Ibu baru datang beberapa menit kemudian. Berjalan agak limbung menghampiri saya. Tubuh masih kuat menahan sakit, namun hati segera luluh oleh dekapan dan tetes air yang membasahi tertahan di lipatan kelopak mata ibu. “Mama hampir jatuh dengar kamu kecelakaan,” bisiknya lirih sambil terus mendekap saya.

Ketika pulang ke rumah ibulah yang paling mengerti saya. Kehabisan rokok, dia belikan; makanan favorit dia buatkan—beliau jarang lupa memasakkan udang goreng tepung ketika saya berada di rumah; kopi, dia siapkan segera ketika saya mengabari akan pulang. Tetap saja dia menasihati, “kurangi rokok dan kopimu.” Saya tak menganggapnya gangguan, toh dia tak pernah lupa membelikan rokok dan kopi. Nasihat adalah bukti kasihnya. Sekedar catatan, ibu saya juga penikmat kopi dan rokok dengan merek yang sama seperti saya.

Saya anak kurang berbakti. Ketika itu, sabtu malam, telepon saya terima di kosan. Suara ibu terdengar kecewa karena saya tak pulang. Besok ada pengajian untuk mendoakan keberangkatannya ke Tanah Suci Mekkah. Gusar hati mendengarnya, saya mengecewakan ibu.

Banyak rasanya perlakuan kurang menyenangkan saya terima. Tapi, tak baik kalau ditulis. Hanya menghabiskan waktu dan membuat penyesalan saja. Saya yang salah maka ibu berlaku seperti itu. Kekecewaannya pada anak lelaki tertua dalam keluarga terus coba dia singkirkan. Sepenggal kalimat keluar dari mulutnya sore itu, setulus Mazmur, “tempat mengadu terbaik bukan pada teman, tapi orangtua. Mereka selalu ingin yang terbaik buat anaknya, maka tak mungkin menjerumuskan kamu.”

Ahh, aku lebih menyukai tidur di rumah. Disini, di kosan, tak ada pagi dimana kau masuk ke kamarku dan memeriksa kantong depan tas, mencari sebatang rokok. Tak ada kau yang membangunkan aku dan bertanya, “al, mana rokok? mama bagi sebatang”.

Jatinangor, 01 Februari 2007